Laman

Translate

Kamis, 22 Januari 2015

ENAK DIBACA TULISANNYA, SUDAH HAMPIR 20 SAYA BACA Suatu ketika, saya memberitahukan kepada seorang teman (sebut saja namanya MJ), kalau saya ada tulisan di blog. saya menyebut kata kunci "abuka09". Kemudian saya meminta untuk membukanya saat itu juga. Karena membukanya pakai handphone, sehingga tampilannya tidak maksimal.
Read More..

Senin, 19 Mei 2014

Kejahatan Sexual vs Pendidikan

Akhir-akhir ini marak pemberitaan kejahatan sexual terhadap anak-anak baik anak TK, SD, SMP maupun anak remaja. Tidak perlu diuraikan panjang lebar dalam tulisan ini. Misalnya yang terjadi di salah satu Sekolah Internasional di Jakarta Selatan.

Pelakunya adalah orang dewasa. Baik lelaki maupun perempuan. Para pengamat memunculkan bermacam-macam reaksi. Ada yang ngotot mengubah atau menambah kurikulum dengan memasukkan materi sex. Ada yang langsung mengajarkan sex terhadap anak-anak agar mereka dapat menghindar atau menolak. Sekalipun sex yang dimaksud adalah pendidikan, tetaapi tetap juga kurang tepat.

Sesungguhnya kita harus sadar sesadar-sadarnya. Belum waktunya anak kecil diajarkan sex. Sebab mereka sedang belajar dan berlatih. Waktu yang mereka miliki sekarang sedang berlatih menggunakan kaki, tangan dan seluruh anggota tubuh. Kalau anak-anak tidak berlari-lari bagaimana mungkin kaki dan badannya kuat? Kalau tangan tidak dilatih untuk bergerak, bagaimana mungkin tangannya kuat?

Disamping latihan fisik, mereka juga melatih logika berfikirnya. Mulai memahami sifat-sifat benda. Mulai memahami panas itu apa? Dingin itu apa? Air itu apa? Bolehkan bermain di kali? Mereka masih mencoba-coba atau sedang mengetahui ada apa dibalik larangan. Orangtua melarang main di taman. Dia mencoba bermain di taman, eh ternyata kena duri. Dia baru lebh patuh dan taat kepada orangtua. Karena dia tahu akibatnya.

Dengan kata lain usia anak-anak itu adalah usia bermain untuk melatih fungsi alat-alat atau organ tubuh supaya berfungsi maksimal. Sedikit demi sedikit mereka juga diajar tentang bersosialisasi dengan teman, guru maupun orangtua.

Sesungguhnya dalam kasus pelecehan sexual terhadap anak-anak ini tidak layak dibebankan pelajaran sex kepada mereka. Itu artinya mereka mendapat beban dua kali. Pertama sebagai korban sexual. Kedua sebagai korban pelajaran (kalau diajarkan apalagi pakai kurikulum segala). Orang dewasa yang bersalah, mengapa anak-anak yang jadi korban? Kita harus ingat kalau kemunculan kurkulum 2013 dimulai dari besar dan beratnya materi/kurikulum SD. Sekarang kita ingin menambah lagi. Kalau ini terjadi, tidak lama lagi kurikulum SD akan ditambah dengan pendidikan anti korupsi karena korupsi sedang marak. Kemudian ditambah lagi dengan kurikulum kemacetan, karena aktual macet di mana-mana terutama kota besar. Kemudian ditambah lagi dengan kurikulum narkoba, narkoba juga sering diberitakan di televisi. dan kurikulum macam-macam.

Kejahatan sexual (di sekolah) bukanlah masalah kurikulum. Akan tetapi adalah masalah kriminal dan manajemen. Guru BP harus mampu melaksanakan bimbingan konseling dengan baik. dia harus mampu mengeruk sebanyak-banyaknya informasi. Informasi tersebut harus dapat ditafsirkan dan diinterpretasikan. Kelemahan kita adalah kurangnya sikap kritis. Harus peka terhadap rangsangan. Setiap perubahan atau stimulus harus memunculkan sikap. Sikap kritis muncul akibat kita mampu menempatkan segala sesuatunya pada tempat yang wajar atau yang semestinya. apabila kita mampu menempatkan pada logika. Biarlah logika yang mengajarkan kita kebenaran. Biarlah logika yang memberi kita petunjuk arah atau signal yang akan terjadi.

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari kejahatan sexual.


Read More..

Kamis, 23 Januari 2014

SODETAN CILIWUNG-CISADANE

Menurut J.J. Rizal, bahwa Sudetan Ciliwung-Cisadane sesungguhnya merupakan salah satu solusi banjir Jabodetabek dari hasil riset JICA pada tahun 1995. Kini wacana tersebut muncul kembali. Sebagian orang mengatakan wacana itu dumunculkan oleh gubernur DKI Jakarta, bersama Gubernur Jawa Barat Ahmat Heryawan serta staf dari Departemen Pekerjaan Umum.

Sebagian masyarakat dan pejabat Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang menolak wacana tersebut. Sebab hingga saat ini kali Cisadane juga kritis. Tetapi pada suatu malam, ketika salah satu Stasiun televisi mewancarai Wakil Gubernur Banten bersama Bupati Tangerang dan Kota Tangerang, mereka memberikan jawaban yang melunak. Mereka setuju sodetan, asal kali Cisadane dikeruk terlebih dahulu. Rano Karno berbicara demikian sambil menunjukkan endapan pasir didekat pintu Pasar Baru kali Cisadane.

Dari perbincangan itu terungkap, bahwa kali Cisadane merupakan tanggungjawab pemerintah pusat. Seandainya itu tanggungjawab Pemda Banten dan Kota Banten, maka anggarannya tidak cukup. Demikian ungkap Wakil Gubernur Banten.

Design sodetan adalah panjang kira-kira 1000 meter dengan lebar 2 meter dan kedalaman 8 meter. Sodetan itu berupa terowongan (deep tunnel) dibawah tanah yang dimulai dari Kelurahan Ranggamekar, Katulampa, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, sampai ke Kelurahan Sukasari, Cisadane, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten.

Sodetan dapat juga berfungsi sebagai pintu air. Artinya, dapat dibuka dan dapat ditutup. Pertanyaanya adalah kapan dibuka dan kapan ditutup? Dan apa indikatornya? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita mengetahui Daerah Aliran Sungai (DAS) masing-masing.

Secara administratif DAS Cisadane terletak di Kabupaten Bogor, Kotamadya Bogor, Kabupaten Tangerang dan Kotamadya Tangerang dengan luasan areal DAS Cisadane sebesar 151.808 ha. DAS Cisadane terbagi atas Sub-DAS yaitu Sub-DAS Cisadane Hulu, Ciapus, Ciampea, Cihideung, Cianten, Cikaniki, Cisadane Tengah dan Cisadane Hilir.

Sumber air DAS Cisadane berasal dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Nasional Halimun Salak (TNGHS). Aliran sungai Cisadane mengalir sejauh 1.047 Km dari kawasan hulu hingga hilir. Aliran sungai ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang bermukim disekitar bantaran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan pola pemanfaatan yang beragam. Berdasarkan topografinya, bagian hulu DAS Cisadane merupakan daerah berbukit dengan ketinggian mencapai 3.000 m dpl dan kemiringan lereng mencapai 40%. Sedangkan bagian hilir sampai bagian tengah merupakan daerah datar hingga bergelombang. DAS Cisadane bagian hulu yang meliputi Kabupaten Bogor dan sebagian Kota Bogor didominasi oleh penggunaan lahan berupa hutan, ladang, perkebunan, pemukiman dan lahankosong. Sedangkan di bagian tengah dan hilir, penggunaan lahan didominasi oleh pemukiman, ladang dan lahan kosong.

Semntara DAS kali Ciliwung adalah Berdasarkan wilayah administrasi, DAS Ciliwung (dari hulu sampai hilir) melingkupi Kab. Bogor, Kodya Bogor, Kodif Depok, dan Propinsi DKI Jakarta dengan deliniasi wilayah sebagai berikut : Bagian hulu DAS Ciliwung sebagian besar termasuk wilayah Kabupaten Bogor yaitu Kecamatan Megamendung, Cisarua dan Ciawi dan sebagian kecil Kota Madya Bogor yaitu Kecamatan Kota Bogor Timur dan Kota Bogor Selatan.

Dari keterangan diatas, jelas terlihat perbedaan DAS. Kali cisadane memiliki DAS yang paling panjang dan Bagian tengah DAS Ciliwung termasuk wilayah Kabupaten Bogor yaitu Kecamatan Sukaraja, Cibinong, Bojonggede dan Cimanggis. Kota Madya Bogor yaitu Kecamatan Kota Bogor Timur, Kota Bogor Tengah, Kota Bogor Utara, dan Tanah Sareal dan Kota Administratif Depok yaitu Kecamatan Pancoran Mas, Sukmajaya dan Beji. Bagian hilir sampai dengan Pintu Air Manggarai termasuk wilayah administrasi pemerintahan Kota Madya Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, lebih ke hilir dari Pintu Air Manggarai, termasuk saluran buatan Kanal Barat, Sungai Ciliwung ini melintasi wilayah Kota Madya Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Jadi jelaslah bahwa DAS kedua kali berbeda. Artinya ada kemungkinan jika Cisadane penuh/banjir tetapi Ciliwung kering. Artinya hujan turun di Taman Nasional Pangrango dan Taman Nasional Halimun salak serta DAS lainnya. Sebaliknya ada kemungkinan Ciliwung banjir, dan Cisadane kering. Dalam kondisi demikian,maka sodetan sangat berfungsi.

Ketika Ciliwung banjir/penuh, maka air disodet ke Cisadane. Sebaliknya jika Cisadane penuh/banjir maka air disodet ke Ciliwung dan sebaliknya. Permasalahan terjadi ketika hujan turun merata disemua DAS. Baik DAS Ciliwung maupun DAS Cisadane. Dalam kondisi begini, sodetan tidak berfungsi.

Siapakah yang diuntungkan?

Pertanyaan ini sangat tergantung dari fakta dilapangan. Kali manakah yang lebih sering banjir? Kalau dari segi logika, maka yang paling diuntungkan adalah Tangerang. Ada dua alasan. Pertama, Kali Cisadane memiliki debit yang lebih besar. DAS lebih luas dan lebih panjang, dibandingkan dengan Ciliwung. Alasan kedua: Banjir Ciliwung di Jakarta cenderung menurun karena penanganan yang semakin baik, dan DAS nya cenderung stabil. Sebab sudah dari dulu berubah fungsi. Maka sekarang pemerintah dan masyarakat berusaha untuk mempertahankan yang ada sekarang atau lebih memperbaikinya. Sementara DAS Cisadane, ada potensi berubah fungsi.
Read More..

Selasa, 21 Januari 2014

UNDANGAN BANJIR

Awal tahun 2013, Pemerintahan Baru Jokowi_Ahok disambut banjir Jakarta yang hebat. Bendungan Latuharhari BKB jebol. Korban jiwa dan korban hartapun jatuh. Jokowi berujar untuk menormalisasi kali, melakukan sumur resapan, normalisasi situ dan menghidupkan wacana puluhan tahun lalu untuk membuat deep tunnel (terowongan dalam tanah) dari Cawang menuju Kalibata hingga ke laut Jawa.

Dalam kurun waktu satu tahun ini, Jokowi sudah menormalisasi sebagian kecil kali dan menormalisasi situ, seperti situ Pluit. Jokowi harus memindahkan ribuan penduduk sekitar Situ Pluit ke rumah susun. Memang, normalisasi tersebut sudah hampir rampung. Dari semua yang sudah dikerjakan Jokowi tersebut belumlah signifikan. Memang tidak semudah membalikkan tangan. Tetapi bila semua kali dan situ yang dijanjikan Jokowi sudah dinormalisasi dan ternayata banjir masih terjadi, maka perlu dipikirkan solusi yang lain. Untuk menyelesaikan semuanya itu, Jokowi memerlukan 4 tahun lagi. Banjir awal 2014 ini, Jokowi bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Ahmat Heriyawan beserta staf dari Kementerian Pekerjaan Umum di pintu air Katulampa, Bogor Jawa Barat. Mereka sepakat akan membangun 2 buah situ di Ciawi sebagai penampungan sementara air sungai Ciliwung. Sebetulnya wacana pembangunan situ di Ciawi tersebut sudah muncul tahun lalu, dan mungkin juga muncul setiap kali ada banjir.

Hasil kedua dari pertemuan tersebut adalah membangun codetan dari kali Ciliwung ke kali Cisadane. Tentu saja Bupati Kabupaten Tangerang tidak setuju. Demikian juga halnya dengan pemerintah Kota Tangerang. Tanpa limpahan sungai Ciliwung, Tangerang sudah dilanda banjir. Apalagi kalau ditambah dari kali Ciliwung. Ini artinya memindahkan banjir Jakarta ke Tangerang. Sekalipun codetan tersebut dapat dibuka/tutup sesuai keperluan.

Banyak orang apatis. Ketika banjir datang, wacana selalu muncul. Pihak media selalu mengumbar acara tentang banjir atau wacana banjir. Jadilah pengamat tata kota banjir undangan talk show seperti Yayat Supryiatna. Selalu muncul hampir di setiap stasiun televisi. Dia membhasa banjir dan solusi atau wacana yang sedang muncul.

Banjir Jakarta dapat digolongkan kepada 2 golongan. Pertama, Undangan Banjir dan kedua adalah Kendali Banjir. Undangan banjir artinya, banjir yang kita undangan ke kota Jakarta. Artinya, sesungguhnya banjir tesebut dapat dihindarkan. Banjir tesrsebut diakibatkan oleh beberapa hal seperti:

1. Banjir diakibatkan oleh gully (lobang selokan) lebih tinggi dari jalan. Sehingga air tidak masuk ke selokan akan tetapi berdiam di Jalan atau mengalir sepanjang jalan menuju tempat yang paling rendah. Genangan air ini jika berhari-hari akan merusak jalan dan terjadilah banjir permanen. Artinya setiap hujan turun selalu banjir, karena air tidak dapat mengalir.

2. Banjir terjadi karena selokan tidak dibangun baik. Adakalanya jalan dibangun dengan bagus, tetapi selokannya tidak dibangun. Akibatnya jalan bagus ini menjadi genangan air. Lama-kelamaan jadi rusak digilas oleh kendaraan.

3. Banjir terjadi karena aliran air tertutup atau ditutup. Karena pembangunan perumahan/rumah atau industri dibangun pada daerah aliran air atau ressapan air. Akibatnya terjadi banjir ditempat lain yang jauh dari daerah perumahan tersebut.

4. Banjir terjadi akibat kali dan situ tidak dikeruk secara rutin. Pada umumnya volum air yang turun dari gunung tidak selalu sama, akan tetapi harus dapat dipastikan kali dan situ harus dapat menampung volum maksimum.

5. Banjir terjadi akibat daerah tangkapan air di hulu berubah fungsi menjadi villa, rumah atau industri. Ketika hujan turun, maka air tidak tersimpan dalam tanah terlebih dahulu, akan tetapi langsung mengalir ke hilir.

6. Banjir terjadi akibat kali dari hulu membawa material tanah atau pasir. Material tersebut selalu mendangkalkan kali, situ atau muara kali. Sehingga volume kali dan situ semakin kecil. Undangan banjir dapat dicegah, bila ada kerjasama antara semua stakeholder. Bila tidak dapat dicegah, sama saja kita mengundang banjir ke Jakarta. Memindahkan awan ke laut dengan modifikasi cuaca, hanyalah solusi temporer. Menyalahkan perubahan iklim juga tidak bisa jadi alasan. Jumlah penduduk yang semakin padat bukan jadi alasan.
7. Banjir terjadi akibat pemanfaatan pinggir kali menjadi rumah. Sehingga kali semakin sempit.

8. Banjir terjadi akibat masyarakat membuang sampah kekali.

9. Banjir terjadi akibat pembangunan jembatan yang kurang baik. Luas penampang jembatan lebih kecil dari luas penampang maksimum kali. Akibatnya air keluar jembatan, dan bahkan air bisa mengikis pondasi dan akhirnya menghanyutkan jembatan. Semestinya jembatan di bangun dengan luas penampang lebih besar dari vollum air sungai maksimum.
Bila kesembilan penyebab banjir diatas sudah diatasi secara maksimum, tetapi banjir masih terjadi, maka itu kita sebut dengan Kendali Banjir. Ada penyebab yang lain seperti Pasang Laut atau Permukaan tanah lebih rendah dari permukaan laut. Artinya diperlukan solusi yang sophisticated.

Laman ini ditujukan terutama dalam bidang pendidikan. Dimanakah materi pendidikannya?

Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sementara banjir menurunkan taraf hidup masyarakat. Banjir terjadi setiap tahun. Bukan hanya di Jakarta akan tetapi di semua belahan bumi. Karena banjir dipastikan selalu datang, maka itu menjadi tugas dari semua manusia di muka bumi ini.

Kurikulum adalah kumpulan pengalaman manusia yang disusun secara sistematis dan logis. Berdasarkan defenisi tersebut, maka banjir adalah pengalaman manusia yang berulang-ulang. Banjir merupakan kurikulum yang disusun secara subjektif. Tergantung siapa yang menyusunnya. Ada yang menyajikan banjir Jakarta sejak zaman VOC. Ada yang menyusun banjir dari sudut jumlah korban yang diakibakannya. Ada yang menyusun rangkaian banjir dari sudut budaya/perubahan budaya, dan macam-macam

( to be continued.)
Read More..

Kamis, 14 November 2013

Penjajah di sekitar Kita

Sekarang masih suasana Hari Pahlawan. Hari ketika Arek-Arek Suroboyo memprotes atas berkibarnya bendera Belanda Merah Putih Biru di atas Hotel Yamato di Surabaya. Dengan paksa Arek-Arek menurunkan bendera Belanda dan merobek birunya, kemudian menaikkan Merah putih, setelah pengorbanan jiwa. Keberanian dan perjuangan mereka layak dianggab sebagai penjelmaan perjuangan Bangsa Indonesia. Peristiwa itulah yang kita peringati setiap tahun sebagai hari pahlawan.

Kondisi negara sekarang ini tidak menuntut kita seperti Arek-Arek Surabaya. Kini saatnya kita hanya untuk mengolah, menikmati, mengamankan serta menjamin bahwa setiap warga negara ikut menikmati kekayaan bumi kita. Apabila itu tidak terjadi, maka ada penjajah disekitar kita. Kita tidak mampu mengetahui dan mengolah kekayaan bumi RI, berarti penjajahnya adalah kebodohan atau ketakutan. Bila hanya segelintir warga yang menikmati kekayaan bumi RI, berarti penjajahnya adalah saudara kita juga, yang mengambil hak saudaranya. Kalau kita berantam atau bentrok karena kekayaan kita, maka penjajahnya adalah kita sendiri yang tidak sanggup teratur, tidak mampu mengatur atau tidak mau diatur atau tidak punya kemampuan membuat aturan yang baik. Kalau kekayaan kita hilang tanpa dinikmati oleh satupun warga negara atau malah jadi bencana, maka penjajahnya adalah kealpaan kita. Tidak memikirkan masa depan. Mementingkan kepentingan hari ini atau kepentingan pribadi atau golongan di atas kepentingan bangsa. Tidak memiliki visi.

Kita tidak hidup sendiri di muka bumi ini. Tetapi kita bertetangga dengan negara lain, baik tetangga dekat maupun tetangga jauh. Banyak negara ngiler dengan kekayaan RI. Mereka akan mewujudkannya dengan berbagai bentuk. Mereka akan mencari dan memanfaatkan setiap kelemahan kita. Adakah kita sedang memikirkan dan mengantisipasinya, sehingga menjadi keuntungan buat bangsa?
Bagaimana kalau kekayaan bumi kita sudah habis, apakah kita bisa hidup?
Read More..

Jumat, 08 November 2013

Hari Pahlawan

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya.

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby.

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya

Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:

"... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik... karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan ...

Disalin dari:http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November
Read More..

Senin, 28 Oktober 2013

Aku dan Dia tidak sama!

Pagi ini materi yang kita pelajari adalah "Matriks". Dimulai dari contoh matriks dalam kehidupan. Kemudian jenis-jenis matriks. Matriks baris adalah matriks yang terdiri dari hanya 1 baris. Ordonyan menjadi 1 x n. N menyatakan banyak baris. Matriks kedua adalah Matriks Kolom, ialah matriks yang terdiri dari hanya 1 kolom. Ordonya menjadi n x 1, dimana n menyatakan banyak baris. Matriks ketiga adalah matriks Persegi, aialah matriks yang memiliki banyak baris sama dengan banyak kolom. Ordo dapat ditulis n x n.

Matriks ketiga adalah matriks Persegi Panjang, ialah matriks yang memiliki banyak baris tidak sama dengan 1, banyak kolom tidak sama dengan 1 dan banyak baris tidak sama dengan banyak kolom. Ordo dapat ditulis, n x m, dimana m tidak sama dengan 1, n tidak sama dengan 1 dan n tidak sama dengan m.

Sudah merupakan kebiasaan bagi kita, untuk memantapkan pengertian/konsep, kita meminta siswa untuk mengulangnya tanpa membaca buku. Seorang siswa mengtakan: "Matriks persegi Panjang adalah matriks yang memiliki banyak baris dan kolom tidak sama, banyak baris tidak sama dengan 1, banyak kolom tidak sama dengan 1". Kelihatannya, jawaban itu sudah benar. Kalau dikasih nilai sudah mendapat hampir 100. Tetapi matematika mempelajari logika dan mempraktekkannya, maka wajib hukumnya bagi kita untuk membenarkannya. Kesalahan terletak pada kalimat " Matrik s yang memiliki banyak baris dan kolom tidak sama". Kalimat tersebut dibangun oleh 2 kalimat tunggal. Kemudian digabung menjadi kalimat majemuk oleh kata hubung "dan".

Siswa tersebut memberi contoh kalimat majemuk yang menggunakan kata "dan", yaitu: Aku dan Dia tidak sama! Kemudian kita bahas bersama. Sebagian siswa tidak tertarik, karena dianggab materi Bahasa Indonesia. Sesungguhnya kalimat tunggal dan kalimat majemuk merupakan materi Matematika dengan kompetensi "Menerapkan Logika."

Kata "dan" digunakan bila ada beberapa Kalimat Tunggal yang memiliki predikat sama, atau keterangan sama, atau objek yang sama, tetapi berbeda subjek. Kalimat tersebut kalau dipisahkan menjadi 2 kalimat tunggal menjadi: Kalimat tunggal pertama adalah, " Aku tidak sama". Kalimat tunggal kedua adalah, "Dia tidak sama".

Kedua kalimat tersebut adalah rancu. Aku tidak sama. Tidak sama dengan siapa? Dia tidak sama. Tidak sama dengan siapa? Kerancuan tersebut lebih jelas bila kata "aku" diganti dengan angka 5 dan kata "dia" kita ganti dengan 10. Kalimat majemuknya menjadi:" 5 dan 10 tidak sama" Sesungguhnya yang lebih tepat adalah: 5 tidak sama dengan 10". Hari ini masih adalah peringatan Sumpah Pemuda. Salah satu sumpahnya adalah: Menjunjujng tinggi Bahassa Persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.
Read More..