Laman

Translate

Selasa, 12 Februari 2013

Belajar dan Pendidikan [2]

Pengetahuan ada karena ada stimulus yang ditangkap oleh panca indera. Misalnya kita melanjutkan cerita ular. Sekarang kita umpamakan kasusnya berbeda. Kalau kasus pertama, seorang anak menyaksikan sendiri bagaimana seekor ular menangkap, membunuh dan menelan seekor babi hutan. Indera yang digunakan adalah mata.

Sekarang mari kita gunakan indera kedua, yaitu telinga. Stimulusnya adalah kita menceritakan sebuah peristiwa seekor ular menangkap, membunuh dan memakan seekor babi hutan kepada beberapa orang. sikap yang muncul mungkian ada anak yang mendengar dengan antusias, mungkin ada tak peduli, mungkin ada yang ngantuk, dan macam-macam. Tentu saja kondisinya sangat berbeda dengan kondisi menggunakan indera mata. Respon atau sikap yang muncul sangat tergantung dari orang yang bercerita. Bila yang bercerita adalah orang yang memang ahli tentang ular, dan mampu merangkai kata-kata dengan intonasi yang baik, maka anak juga akan menunjukkan sikap positip. Pertanyaanya adalah indera manakah yang mampu merubah pengetahuan, sikap dan keterampilan orang? Kombinasi dari panca indera dalam belajar akan memantapkan proses belajar. Tetapi yang paling dominan adalah telinga dan mata sehingaa sering disebut dengan pengajaran secara audio visual.

Pertanyaan adalah bagaimanakah mengukur knowledge itu? Bagaimana mengukur attitude itu? Dan bagaimana juga mengukur skill? Blomm menjabarkan atau mengelompokkan knowledge (cognitive) itu menjadi 6 tingkatan yang disebut dengan Taxonomi Bloom (sering juga disebut dengan C1, C2, C3, C4, C5 dan C6). Tingkatan itu diurutkan menurut hierarki berpikir manusia. Taxonomi Bloom juga digunakan sebagai acuan dalam penyusunan bahan ajar dan sekaligus dalam penyusunan alat evaluasi (soal). Taxanomi Blomm membantu gusu dalam menyusun tingkat kesukaran bahan ajar dan alat evaluasinya. C1 adalah soal yang paling mudah sementara C6 adalah soal yang paling susah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar