Laman

Translate

Rabu, 27 Maret 2013

Kendali atau Kontrol ?


Kontrol berasal dari kata "control" (Bahasa Inggris) yang berarti kendali. Kalau kita gunakan mesin pencari kata google, maka kata "kendali" ditemukan dalam 7,7 juta laman. Sementara kata "kontrol" ada sebanyak 87 juta laman. Perbandingannya adalah 9 berbanding 100. Setiap sembilan kali orang Indonesia menggunakan kata "kendali" dan secara bersamaan ada 100 ksli menggunakan kata "kontrol". Ini menandakan mayoritas masyarakat Indonesia lebih memilih kata asing dari kata yang berasal dari bumi Indonesia sendiri.

Bukan hanya dalam tulisan, pada media visual juga kita lebih sering mendengar kata control dibanding kendali. Baik oleh penyiar, oleh para ahli, pengamat maupun pejabat Negara/pemerintahan. Pada hal, banyak orang yang tidak sempurna mengucapkan kata “er”. Orang yang normal saja sering mengucapkan kontrol tanpa er atau er nya lemah ketika mereka berbicara sedang serius, atau sedang buru-buru atau sedang emosi. Artinya penggunaan kata kontrol lebih beresiko salah dibanding pengucapan kata kendali. Resiko yang lebih besar adalah, kita lebih mencintai bahasa asing dari bahasa Indonesia.
Apakah kita lebih suka resiko atau aman?
Read More..

Selasa, 19 Maret 2013

Aklamasi atau Musyawarat?

Kata aklamasi artinya pernyataan setuju secara lisan dari seluruh peserta rapat terhadap suatu usul tanpa melalui pemungutan suara. Bila kita gunakan mesin pencari kata Google, maka kita dapat kata Aklamasi sebanyak 583.000. Partai Golkar, Partai Nasdem memilih ketua Umumnya dengan aklamasi. Partai Demokrat tampaknya juga akan aklamasi.

Sementara kata musyawarah ada 16.700.000 kata oleh mesin pencarian kata Google. Musyawarah artinya pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan. Dengan kata lain aklamasi dan musyawarah memiliki pengertian yang hampir sama. Pertanyaanya adalah,mengapa memakai kata aklamasi? Kata aklamasi tidak ditemukan dalam dasar negara Pancasila. Bolehkah kita sebut, bila hati dan pikiran kita selalu berlandaskan pancasila, maka kata yang kita gunakan adalah kata yang terkandung didalamnya?

Lebih parah lagi, sesungguhnya pada Pancasila tidak ditemukan kata "musyawarah", akan tetapi musyawarat sekalipun artinya sama persis. Paling parah lagi, bab ii UUD 1945 hasil amandemen adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), tetapi satu pasalpun dan satu ayatpun tidak ditemukan kata musyawarah atau musyawarat.

Manusia pancasilais memakai kata "musyawarat" atau "musyawarah", bukan aklamasi! Iye kali....!
Read More..

Kamis, 14 Maret 2013

Minat

Pasal 12 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama; mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara; menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. Pasal ini hampir sama (99% sama) dengan pasal 24 UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Artinya pasal ini tetap dipertahankan hingga saat ini sudah 24 tahun. Pertanyaanya adalah prakteknya seperti apa?

Minat adalah kesediaan jiwa secara aktif untuk menerima sesuatu. Kalau bakat sudah pasti minat. Permasalahan adalah dia tidak berbakat dan tidak berminat. Kalau bakat dapat dikembangkan dan dilatih, tetapi minat butuh motivasi. Sebagaimana kita bahas dalam pengertian belajar. Penumbuhan minat, artinya telah terjadi belajar. Karena sudah ada perubahan sikap yaitu minat. Membuat siswa berminat merupakan tujuan belajar.

Ada berbagai macam cara dalam penumbuhan minat dalam pembelajaran. Pertama penyusunan materi ajar dengan sistematis. Dimulai dari hal-hal yang terkecil/sederhana/mudah menuju pada hal yang kompleks/sukar. Kedua dengan penerapan metode dan strategi yang tepat. Ketiga dengan penggunaan media yang baik. Keempat dengan penerapan aturan yang konsisten. Kelima dengan penciptaan iklim yang demokratis. Keenam dengan gaya bahasa yang baik.

Kurikulum 2013 yang akan dilaksanakan, menyajikan Mata Pelajaran Peminatan. Peminatan menggantikan jurusan. Kalau ini dilaksanakan, tampaknya yang tercipta bukan kemajuan, akan tetapi kemunduran. Kalau SMA jurusan dari dulu sampai sekarang tidak banyak berubah, hanya IPA,IPS, Bahasa dan Budaya. Tetapi kalau SMK setiap saat jurusan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Saat ini jurusan SMK sudah lebih dari 50 jurusan. Kalau jurusan diganti, makin susah bagi siswa maupun orangtua. Perubahan sekolah kejuruan menjadi SMK saja, siswa dan orangtua sudah banyak yang kewalahan dan memilih sekolah yang tidak sesuai dengan minat. Perlu beberapa tahun bagi siswa dan orangtua untuk memahami SMK dan jurusannya.
Read More..

Rabu, 13 Maret 2013

Bakat.

Pasal 12 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama; mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara; menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.

Pasal ini hampir sama (99% sama) dengan pasal 24 UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Artinya pasal ini tetap dipertahankan hingga saat ini sudah 24 tahun. Pertanyaanya adalah prakteknya seperti apa?

Bakat merupakan kondisi atau kualitas yang dimiliki seseorang, yang memungkinkan seseorang tersebut akan berkembang pada masa mendatang. Bakat bisa diartikan sebagai kemampuan bawaan yang berupa potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Pada umumnya bakat sudah dapat terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Bakat itu merupakan bidang yang disenangi dan dia unggul dalam bidang tersebut. Tetapi ada juga bakat yang masih tersembunyi.

Dalam prakteknya di sekolah, bakat diwujudkan dalam dua bentuk. Pertama dalam kegiatan intrakurikuler. Misalnya dia senang berhitung. Maka dia ada bakat matematika dan ilmu eksakta. Dia senang menulis, maka dia ada bakat jadi penulis novel, puisi dan sejenisnya. Dia senang mengutak-atik sesuatu, maka dia ada bakat tehnik. Dan lain-lain. Mau apa juga bakat anak, dia harus mempelajari semua Mata Pelajaran yang sudah ditetapkan dalam Kurikulum. Dapat disimpulkan, jika dia suka semua pelajaran dan unggul dalam semua Mata Pelajaran, maka anak itu memiliki banyak bakat (multiple altitude).

Wujud kedua dari bakat di sekolah adalah kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Paskibra, Pecinta Alam, Vocal Group, Drama, Tari, Silat, Karate, Taekwondo, Basket Bola, Sepak Bola, Futsal, Rohani Islam, Rohani Kristen, English Debate, dan lain-lain. Setiap jenjang pendidikan memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang mungkin berbeda.

Sangat susah untuk menampung semua bakat yang dimiliki oleh semua siswa. Lagi pula kebanyakan pelatih/guru ekstrakurikuler adalah orang luar. Keberhasilan siswa dalam pengembangan bakat sangat ditentukan oleh siswa sendiri dan keluarga.
Read More..

Selasa, 12 Maret 2013

Hitung tanpa Kertas dan Tulis

Suatu hari, ketika saya menanyakan kepada anak saya kelas IV SD: berapakah 3 dibagi 5? Kemudian dia buru-buru mengambil kertas dan alat tulis. Saya melarangnya, karena bukan dalam kondisi belajar, akan tetapi dalam kondisi santai di ruang tamu. Dia protes, dan berkata: tidak bisa!

Sekarang: berapa 6 dibagi 10? Tidak bisa! Ambillah kertasmu. Kemudian dia jawab: 0,6. Berapa 7 dibagi 10? Jawab 0,7. Sekarang hilangkan alat tulis, berapakah 4 dibagi 10? 0,4 pak, dengan jawaban yang cepat. Berapakah 3 dibagi 5?Ah..tidak bisa pak. Berapakah 5 dikali 2? 10 pak. Berapakah 3 dikali 2? 6 pak!. Berapakah 3 dibagi 5? Ya tadi udah nggak bisa pak! Kok diulang-ulang melulu!

Kalau 3 dibagi 5, maka 3 disebut dengan? Pembilang, dan 5 disebut penyebut, jawabnya dengan cepat. Kalau pembilang dikali dua, maka penyebut juga dikali 2. Jadi kalau penyebut angka lima dikali dengan dua, maka penyebutnya jadi 10. Oh begitu pak. Berapakah 3 dibagi 5? 0,6 pak! Bagus, berapakah 4 dibagi 5? "Nol koma delapa...an", kata adeknya yang masih kelas dua SD, yang ikut menyimak. Betul,kata kelas IV. Berapakah 7 dibagi 5? "Nol koma empat belas", kata mereka berdua. Kalau 7 dibagi 5 bisa berapa dan sisa berapa? Bisa satu dan sisa 2. Kalau bisa satu, berarti hasil baginya satu koma. Oh begitu, jadi 7 dibagi 5 sama dengan 1,4. Good! Berapakah 11 dibagi dengan 5? Dua koma dua pak! Jawab mereka berdua.

Hanya dalam tempo kira-kira 10 menit, mereka berdua tamat pembagian oleh lima untuk bilangan dibawah 50, tanpa alat tulis. Konsep yang digunakan adalah konsep pecahan senilai. Jika pembilang dikali dengan bilangan k, maka penyebut juga harus dikali dengan k, maka pecahan akan tetap bernilai sama. Bilangan k disebut dengan faktor persekutuan. Dengan mengajarkan konsep seperti ini, siswa dituntut menggunakan konsep sebelumnya yang sudah dipelajari yaitu faktor persekutuan. Pembagian dengan angka 5 dan 10 merupakan kejadian yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perlu perhitungan luar kepala alias tanpa kertas.
Read More..

Minggu, 10 Maret 2013

Sudah Moving Class!

Memang lima tahun yang lalu moving class sangat popular. Banyak sekolah yang menerapkannya. Termasuk SMKN 17 Jakarta ingin menerapkannya. Ketika itu saya menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kendali Mutu menolak dengan berbagai alasan. Kalau moving class, maka ruangan kita sulap menjadi kantor, dimana seorang guru atau beberapa guru sejenis dalam satu kantor. Siswa satu kelas datang kepada guru tersebut. Jadi suasananya tidak seperti kelas, akan tetapi seperti diskusi.

Persoalan yang ditimbulkan lebih banyak dari keuntungan yang diperolehnya. Logika mengajarkan kita untuk mengambil kesimpulan menolak. Alasannya pertama. Pengendalian kelas. Lebih mudah mengendalikan perpindahan seorang guru dibandingkan dengan perpindahan 40 siswa. Kalau dalam satu sekolah ada 15 kelas, maka dalam waktu bersamaan ada 600 siswa hilir mudik diluar kelas. Pergerakan orang sebanyak ini tentu saja memakan waktu yang lama dan juga memberikan kesempatan kepada anak yang nakal untuk mampir kemana-mana, misalnya mampir ke kamar mandi, musolla atau kantin lebih dahulu.

Alasan kedua. Tidak semua materi pelajaran cocok dengan metode diskusi. Alasan ketiga. Kalau ada 2 atau lebih guru dalam satu kantor sedang mengajar, maka ada 80 atau 120 siswa dalam kantor tersebut. Apakah itu masih suasana kantor? Moving class itu cocok dengan jumlah kelas yang kecil, misalnya 20 siswa atau kurang. SMKN 17 melaksanakan moving class hanya unutk efisiensi. Kelas yang dipindah adalah mereka yang sedang menggunakan lapangan atau laboratorium.
Read More..

Sabtu, 09 Maret 2013

Lidah Sexy

Kata sexy biasanya dipakai untuk wanita yang tubuhnya langsing dan menarik. Sexy juga digunakan untuk barang yang tipis. Misalnya Notebook sexy. Artinya notebooknya semakin tipis dan menarik. Bibir sexy, bibirnya tipis dan dan cantik.

Satu minggu yang lalu saya berkata kepada seorang siswi:" Nak bilang dulu mama, agar menelopon bapak". Ada apa pak, saya tidak mau. Ya sudah, nomor HP mu berapa, biar bapak yang telepon. Saya tidak punya HP pak, katnya. Ya sudah, nanti bapak cari saja dari satabase.

Besoknya, sang anak kelihatan bersedih. Kenapa nak? dia menjawab:"HP ku hilang pak". La..katanya kemarin tak punya HP. Nah jadi orang harus jujur. Itulah masalah siswi ini. Kalau jawab, seenaknya dengan kalimat yang sangat pendek. Sehingga menarik kita untuk selalu mengajukan pertanyaan berikut. Jawababannya singkat-singkat.
Read More..

Kamis, 07 Maret 2013

Sudah Melaksanakan Ujian Block?



Dengan mendengar jawaban seperti itu, Ibu Tegap tersebut langsung mengganti pertanyaan. “Apakah Ulangan Harian (UH) dilaksanakan bersama-sama?”. Kita semua kembali hening. Kemudian saya menjawab: “Ulangan Tengah Semester (UTS) dan Ulangan Semester, ya dilakukan bersama.” Kemudian ibu itu menjawab dengan cepat: “Bukan pak, yang saya maksud apakah sekolah ini melaksanakan UH bersama?” Kemudian saya jawab, “Menurut Peraturan Menteri tentang Standar Penilaian Pendidikan bahwa Ulangan Harian (UH) wajib dilaksanakan untuk mengukur penguasaan siswa terhadap satu Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasar. Itu hak seorang guru untuk melaksanakannya, bukan dilaksanakan bersama-sama dengan kelas yang lain, bukan pula dengan guru yang lain”.
Mendengar penjelasan seperti itu, ibu tersebut makin membara dengan mengganti pertanyaan masih seputar ujian. “Apakah bapak melaksanakan Ujian Blok?”. Langsung saya jawab singkat:”UJian Blok tidak ada dalam peraturan”. Dia jawab lagi dengan penuh semangat, “Tetapi sekolah XY ( XY adalah sebuah sekolah SMA di Jakarta Pusat) melaksanakan Ujian Blok, masak sekolah ini tidak?”. Saya jawab lagi dengan cepat: ” Bilangin kepada sekolah XY agar melihat Peraturan Menteri tentang Standar Evaluasi Pendidikan.”
Akhirnya ibu itu melunak juga, dan berbicara lebih santai. Semua anak saya memilih SMA, tetapi yang satu ini memilih SMK N 17 Jakarta. Tampaknya Sang ibu ini tidak nyaman dengan SMK. Saya sebagai orang tua harus tahu dong apa yang dilaksanakan di sekolah dimana anak saya sekolah? Katanya dengan lembut. Kemudian saya jawab:”Ibu betul. Tetapi ibu tidak bisa memaksakan sekolah ini melaksanakan moving class. Tidak bisa juga memaksakan melaksanakan Ujian Block. Itu hanya kebijakan sekolah masing-masing.”
Kemudian Sang Ibu lembut tersebut menjawab: “Saya 8 kali setahun ke Sekolah XY untuk mengambil rapor hasil UH dan ujian lainnya. Hampir setiap bulan saya ke sekolah. Saya juga kerja.” Dalam diri ibu tersebut ada kontradiksi. Satu sisi dia senang dengan pelaksanaan ujian yang ketat disekolah XY, sisi lain dia tidak mau repot sampai 8 kali setahun ke Sekolah.
Kemudian saya jelaskan lagi. “Ibu tidak perlu sampai 8 kali setahun ke SMKN 17 Jakarta. Kalau ada yang perlu, banyak media yang bisa kita gunakan, misalnya telepon. Semestinya ibu bertanya tentang jurusan yang ada di SMK. Jurusan dipilih ketika anak ibu mendaftar. Berbeda dengan SMA, jurusan diberikan/dipilih setelah kelas XI. Kita ada 3 jurusan yaitu Akuntansi, Administrasi Perkantoran dan Pemasaran.”
Ibu itu langsung menjawab:”Anak saya mau pilih Akuntansi pak!”. Dari jawaban itu tertangkap bahwa pilihan anaknya sudah mantap. Ibunya berharap semua anaknya berkumpul di sekolah XY. Dia tidak sanggub dan malu minta izin melulu kalau dia 8 kali ke XY dan 8 kali ke SMKN 17 Jakarta. Jadi dia total 16 kali setahun minta izin dari Kantor tempat Sang ibu bekerja.
Read More..

Sudah Moving Class?



Kira-kira mulai pertengahan Juni 2012 siswa SMP atau dan orangtua sudah datang dan sibuk melihat-lihat dan bertanya tentang SMKN 17 Jakarta. Ada beberapa dari mereka yang berusaha masuk ke dalam sekedar melihat gedung dan taman. Ada juga puas dengan melihat sampai pada halaman sekolah. Kejadian seperti itu pasti terjadi untuk semua sekolah negeri di Jakarta.
Tetapi yang paling aneh, ada seorang ibu yang tinggi tegab, kelihatannya tergesa-gesa dengan langkah yang panjang. Ketika itu suasana belajar mengajar sudah tidak ada. Bapak ibu guru sedang mengisi raport dan yang lainnya sedang mengerjakan perlengkapan mengajar dan ada juga yang sedang duduk di depan pintu masuk sambil menyaksikan anak-anak yang sedang main futsall. Tiba-tiba ibu tegab itu berkata: “Selamat siang pak! Apakah sekolah ini sudah melaksanakan moving class?”.
Kita ada 4 orang guru yang sedang duduk disana, dan sedang hening sejenak dan saling pandang satu sama lain. Dari sekian banyak siswa SMP dan orantua siswa selama bertahun-tahun tak pernah pertanyaan seperti itu. Diantara 4 orang tersebut ada seorang Wakil Kepala Sekolah bidang Kendali Mutu. Karena saya bukan panitia Penerimaan Siswa Baru (PSB), maka saya tidak menjawab. Sementara diantara kami berempat cuma saya yang tidak anggota panitia PSB, dan sedang menunggu mereka menjawab. Akhirnya saya yang menjawab: “Moving class bukan tujuan kita bu. Kita sudah melaksanakan moving class karena kita kekurangan satu ruangan kelas. Ketika satu kelas sedang praktek Olah Raga di lapangan, atau sedang praktek pelajaran lain di laboraotium Komputer, Bahasa Inggris, Akuntansi, Pemasaran dan Laboratorium Administrasi Perkantoran, maka ruang kelasnya digunakan kelas yang lain. Itulah pelaksanaan moving class di sekolah ini ”.
Kalau kita duga, ibu Tinggi Tegab ini sudah mengambil kesimpulan bahwa moving class sebagai salah satu alat ukur kemajuan pendidikan di sekolah. Tidak perlu menghabiskan energy untuk memahami apa yang dimaksud dengan moving class. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Sibuk juga dengan pekerjaan di rumah, sebagai ibu rumah tangga. Dia cukup mempercayakan saja kepada pihak sekolah. Kebijakan apapun yang dilaksanakan sekolah dapercayai sebagai kebijakan yang tepat dan berlaku umum di semua sekolah.
Read More..

Rabu, 06 Maret 2013

Tematik dan Kesiapan Guru

Salah satu perubahan yang terdapat pada Kurikulum 2013 adalah "tematik" yang akan dilaksanakan pada SD kelas I, II dan III. Tematik memadukan semua/beberapa Mata Pelajaran. Mata Pelajaran IPA dipadukan dengan IPS, PPKN, dan lain-lain. Inilah salah satu usaha menyederhanakan beban belajar siswa SD. Paling tidak, yang dapat dipastikan, bahwa jumlah Mata Pelajaran berkurang. Apakah materinya berkurang atau malah tambah berat, itu menjadi pertanyaan besar. Sangat tergantung dari temanya dan buku yang diterbitkan oleh Pemerintah (dengan anggaban bahwa standar ISI tidak berubah).

Keraguan dan kekhawatiran masyarakat muncul, karena mendengar kata tematik. Diragukan guru tidak siap melaksanakannya. Sesungguhnya kekhawatiran itu sangat berlebihan. Memang selama ini sudah diterapkan Mata Pelajaran, tetapi gurunya adalah guru kelas untuk kelas I,II dan III. Guru kelas artinya, dia yang mengajarkan semuanya. Dia guru IPA, dia guru IPS, Matematika dan lain-lain. Jadi perbedaan hanya dalam format. Bagi guru, pasti tidak ada masalah. Yang masalah adalah mendengar kata "perubahan". Tampaknya masyarakat trauma dengan kata perubahan Kurikulum, kenapa ya? Kata Gus Dur: "Gitu aja kok repot!"
Read More..

Selasa, 05 Maret 2013

Kamu dari mana nak?

Pagi ini ada seorang siswa yang terlambat kira-kira 10 menit, datang dan menyapa dengan hormat sambil mengatakan bahwa keterlabatan nya diakibatkan tidak ada angkutan. Kemudian kita tanya: "Kamu dari mana nak?". Dia menjawab: "dari rumah pak!". Kemudian pertanyaan yang sama saya ajukan, dia juga memberikan jawaban yang sama. Saya ulangi lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan dijawab juga dengan jawaban yang sama. Tepai akhirnya dia menjawab: "dari Kembangan pak!"

Matematika merupakan alat untuk meningkatkan logika. Kalau pertanyaan diulang, ada dua kemungkinan. Pertama, jawaban tidak jelas kedengaran oleh penanya. Tetapi dalam kasus ini semua jelas. Kedua, jawaban yang diberikan kurang tepat. Inilah yang terjadi. Memang benar siswa tersebut datang dari rumah. Tetapi semua siswa datang dari rumah. Karena itu sudah jelas, untuk apa dipertanyakan lagi? Pertanyaan diajukan untuk memperjelas yang tidak pasti (ragu). Sesungguhnya pertanyaan itu menanyakan tempat tinggal atau daerah.

Kalau kita sudah tahu daerahnya, maka yang terlambat semestinya bukan seorang. Kemudian kita periksa siswa lain yang daerahnya disekitar kembangan atau yang menggunakan angkutan yang sama. Ternyata hanya dia. Sesungguhnya hanya alasan angkutan tidak ada, tidak tepat. Itu hanya alasan untuk menggantikan bangun terlambat.
Read More..

Minggu, 03 Maret 2013

Sederajat dan Lebih Kuat

Pada laman sebuah penerbit terkenal ditemukan judul Operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat (Matematika SD Kelas VI). Disana ditulis operasi yaitu: 1. Penjumlahan dan pengurangan sederajat. 2. Perkalian sederajat dengan pembagian. 3. Operasi hitung yang sederajat, pengerjaannya dilakukan ke kiri. 4.Operasi (x) dan (:) lebih tinggi derajatnya daripada (+) dan (-), maka pengerjaan (x) dan (:) diselesaikan lebih dahulu.

Contoh soal 20-8:2. Menurut aturan di atas,maka pengerjaan menjadi 20-4=16, karena operasi perkalian lebih kuat dari operasi pengurangan. Cara pengajaran seperti ini harus segera ditinggalkan. sederajat, sama kuat, lebih kuat tidak tepat digunakan dalam operasi hitung. Jangan sampai operasi begini menjadi bahan hafalan anak-anak. Matematika bukan hafalan, akan tetapi berfungsi untuk mengembangkan kompetensi berfikir.

Angka itu berasal dari proses kehidupan. Oleh karena itu dia berasal dari mana?. Contohnya: Petani membawa 20 buah mangga dari kebun ke rumah. Ternyata dalam perjalan ada 8 buah rusak. Jeruk tersebut akan dibagikan ke 2 orang anaknya. Berapa jerukkah setiap anak? Perhitungan dari contoh di atas adalah (20-8)/2 =12/2=6 buah jeruk setiap anak.

Sekarang kita masuk pada contoh kedua: Ayah memiliki 20 buah durian dan akan diberikan kepada 8 orang temannya. Jika setiap teman hanya mampu menghabiskan sebelah duren, berapakah sisa duren ayah? Perhitungan contoh di atas adalah 20-(8/2)=20-4=16 buah duren. Kedua contoh di atas memiliki angka yang sama, yaitu 20,8 dan 2 dengan hasil yang berbeda. Kehadiran tanda kurung menandakan proses dalam kalimat verbal. Inilah yang perlu kita ajarkan dan latihkan dalam pendidikan Matematika. Ada 2 kompetensi utama yang harus diajarkan dan dilatihkan. Kompetensi pertama adalah pemodelan.

Pemodelan artinya kemampuan untuk merubah kalimat verbal menjadi kalimat matematika. Kalimat matematika dari contoh satu adalah (20-8)/2 dan contoh dua adalah 20-(8/2). Kompetensi yang kedua adalah perhitungan itu sendiri. Kehadiran tanda kurung menandakan proses nyta. Kita boleh mengerjakan yang didalam kurung terlebih dahulu. Boleh juga tidak mengerjakan yang didalam kurung dengan menerapkan hukum distributif. Untuk melatih perhitungannya saja, maka sebaiknya gunakan kurung, jangan gunakan kata "sederajat", "sama kuat" atau "lebih kuat".
Read More..