Laman

Translate

Kamis, 07 Maret 2013

Sudah Moving Class?



Kira-kira mulai pertengahan Juni 2012 siswa SMP atau dan orangtua sudah datang dan sibuk melihat-lihat dan bertanya tentang SMKN 17 Jakarta. Ada beberapa dari mereka yang berusaha masuk ke dalam sekedar melihat gedung dan taman. Ada juga puas dengan melihat sampai pada halaman sekolah. Kejadian seperti itu pasti terjadi untuk semua sekolah negeri di Jakarta.
Tetapi yang paling aneh, ada seorang ibu yang tinggi tegab, kelihatannya tergesa-gesa dengan langkah yang panjang. Ketika itu suasana belajar mengajar sudah tidak ada. Bapak ibu guru sedang mengisi raport dan yang lainnya sedang mengerjakan perlengkapan mengajar dan ada juga yang sedang duduk di depan pintu masuk sambil menyaksikan anak-anak yang sedang main futsall. Tiba-tiba ibu tegab itu berkata: “Selamat siang pak! Apakah sekolah ini sudah melaksanakan moving class?”.
Kita ada 4 orang guru yang sedang duduk disana, dan sedang hening sejenak dan saling pandang satu sama lain. Dari sekian banyak siswa SMP dan orantua siswa selama bertahun-tahun tak pernah pertanyaan seperti itu. Diantara 4 orang tersebut ada seorang Wakil Kepala Sekolah bidang Kendali Mutu. Karena saya bukan panitia Penerimaan Siswa Baru (PSB), maka saya tidak menjawab. Sementara diantara kami berempat cuma saya yang tidak anggota panitia PSB, dan sedang menunggu mereka menjawab. Akhirnya saya yang menjawab: “Moving class bukan tujuan kita bu. Kita sudah melaksanakan moving class karena kita kekurangan satu ruangan kelas. Ketika satu kelas sedang praktek Olah Raga di lapangan, atau sedang praktek pelajaran lain di laboraotium Komputer, Bahasa Inggris, Akuntansi, Pemasaran dan Laboratorium Administrasi Perkantoran, maka ruang kelasnya digunakan kelas yang lain. Itulah pelaksanaan moving class di sekolah ini ”.
Kalau kita duga, ibu Tinggi Tegab ini sudah mengambil kesimpulan bahwa moving class sebagai salah satu alat ukur kemajuan pendidikan di sekolah. Tidak perlu menghabiskan energy untuk memahami apa yang dimaksud dengan moving class. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Sibuk juga dengan pekerjaan di rumah, sebagai ibu rumah tangga. Dia cukup mempercayakan saja kepada pihak sekolah. Kebijakan apapun yang dilaksanakan sekolah dapercayai sebagai kebijakan yang tepat dan berlaku umum di semua sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar