Laman

Translate

Minggu, 10 Maret 2013

Sudah Moving Class!

Memang lima tahun yang lalu moving class sangat popular. Banyak sekolah yang menerapkannya. Termasuk SMKN 17 Jakarta ingin menerapkannya. Ketika itu saya menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kendali Mutu menolak dengan berbagai alasan. Kalau moving class, maka ruangan kita sulap menjadi kantor, dimana seorang guru atau beberapa guru sejenis dalam satu kantor. Siswa satu kelas datang kepada guru tersebut. Jadi suasananya tidak seperti kelas, akan tetapi seperti diskusi.

Persoalan yang ditimbulkan lebih banyak dari keuntungan yang diperolehnya. Logika mengajarkan kita untuk mengambil kesimpulan menolak. Alasannya pertama. Pengendalian kelas. Lebih mudah mengendalikan perpindahan seorang guru dibandingkan dengan perpindahan 40 siswa. Kalau dalam satu sekolah ada 15 kelas, maka dalam waktu bersamaan ada 600 siswa hilir mudik diluar kelas. Pergerakan orang sebanyak ini tentu saja memakan waktu yang lama dan juga memberikan kesempatan kepada anak yang nakal untuk mampir kemana-mana, misalnya mampir ke kamar mandi, musolla atau kantin lebih dahulu.

Alasan kedua. Tidak semua materi pelajaran cocok dengan metode diskusi. Alasan ketiga. Kalau ada 2 atau lebih guru dalam satu kantor sedang mengajar, maka ada 80 atau 120 siswa dalam kantor tersebut. Apakah itu masih suasana kantor? Moving class itu cocok dengan jumlah kelas yang kecil, misalnya 20 siswa atau kurang. SMKN 17 melaksanakan moving class hanya unutk efisiensi. Kelas yang dipindah adalah mereka yang sedang menggunakan lapangan atau laboratorium.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar