Laman

Translate

Minggu, 28 April 2013

Kamu diHANTUI....

Ketika kita mengatakan sesuatu kalimat, ada saja beberapa siswa memotong: "Ulang pak!". Kalimat belum selesai diucapkan sudah langsung dipotong. Seorang guru juga paham kemampuan seorang manusia untuk menangkap dengan tepat satu kalimat. Itulah kebiasaan buruk siswa. sesungguhnya bukan karena otaknya tidak mampu, akan tetapi hanya karena kebiasaan. Kebiasaan untuk dituntun secara detail, diberikan secara lengkap sesuai dengan seleranya. Kalau seleranya pas dengan selera yang sepantasnya (sesuai usianya), tentu tidak masalah.

"Dua buah matriks dapat dikalikan bila banyak kolom matriks pertama sama dengan banyak baris metriks kedua". Itulah kalimat yang diulang. Kalimat tersebut menjadi dasar atau hukum dalam perkalian matriks. Setiap siswa harus dapat menghafal hukum tersebut dalam tempo singkat. Bila itu sudah terjadi, maka kita menuliskan beberapa matriks dipapan tulis. Siswa diminta untuk menuliskan matriks yang dapat dikalikan. Pekerjaan ini hanya wujud aplikasi dari hukum yang sudah dikuasai. Tetapi ada saja yang memotong: " Kasih contoh dulu pak!".

Kita menuntut siswa bukan untuk melakukan tugas berat, akan tetapi hanya melihat hubungan antara kalimat yang dihafal dengan materi pelajaran yang sedang dibahas. Kita menekankan bahwa setiap kalimat yang kita berikan adalah bermakna, sebagaimana Teory Belajar dari Ausubel. Kita harus membiasakan siswa untuk lebih banyak menggunakan otak dari pada tangan. Siswa kalau sudah menulis, dianggabnya semua sudah beres. Otaknya plong. Perasaanya lega. Sehingga materi hanya pindah dari buku satu ke buku tulis.

Siswa menulis semua kemungkinan matriks yang dapat dikalikan. Tentu saja ada yang salah dan saat itu juga kita bahas letak kesalahan. Kemudian dilanjutkan dengan operasi mengalikan. Dimulai dari beberapa contoh dan kemudian dilanjutkan oleh siswa. Belum dicoba sama sekali sudah memotong. "Pak! belum mengerti sama sekali. Kasih contoh lagi pak!". " Di otakmu itu ada hantu. Belum apa-apa, kamu sudah kwatir, takut. Kamu selalu dihantui ketakutanmu. Berpikir dengan tenang, sabar dan jangan takut tidak bisa. Kalau kamu sabar dan tenang, pasti bisa. Jangan langsung menolak apalagi protes!". Dalam waktu singkat siswa tersebut dapat menrimanya dan ternyata dapat melanjutkan pekerjaan dengan benar yang disaksikan oleh semua temannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar