Laman

Translate

Senin, 20 Mei 2013

Kebangkitan dan Matematika

Tanggal 20 Mei 1908 kita peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Disebut kebangkitan karena pada tanggal tersebut didirikan organisasi pertama dengan tujuan dan azas yang jelas yaitu nasionalisme Indonesia. Organisasi ini didirikan oleh para pelajar sekolah tinggi STOVIA. Usia mereka relatif masih muda. Mereka menamakan organisasi "BUDI UTOMO". Organisasi Budi Utomo, dalam perjalanannya melakukan pendekatan koperatif. Bekerjasama dengan penguasa Belanda. Bentuk kerjasamanya adalah diizinkannya utusan STOVIA menjadi anggota wakil rakyat (volksraad). Mereka bersatu dengan anggota Volksraad lainnya membentuk satu fraksi yang disebut dengan Fraksi Nasional dibawah ketua Fraksi M.H. Thamrin seorang putra Betawi.

Tiga tahun kemudian muncul organisasi yang bersifat islami dan dagang yang disebut dengan Sarekat Dagang yang kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam. Tidak lama kemudian muncul PNI bentukan Ir. Soekarno dan organisasi yang lain. Organisasi Sarekat Islam dan PNI serta organisasi yang lain disebut sebagai organisasi non koperatif. Sebab mereka menolak untuk bekerjasama dengan penguasa Belanda untuk diikutsertakan menjadi anggota volksraad. Organisasi yang bersifat kooperatif berjuang melalui parlemen. Non koperatif berjuang diluar parlemen. Keduanya berjuang tidak dengan senjata, akan tetapi dengan menggunakan otak dan emosi. Itulah bentuk kemajuan perjuangan dibandingkan dengan perjuangan sebelumnya yang bersifat kedaerahan dan bersenjata.Perubahan bentuk (wujud) perjuangan itulah yang dinamakan "kebangkitan". Perjuangan dengan mengandalkan senjata dan otot serta emosi berubah menjadi perjuangan dengan mengandalkan pikiran, persatuan dan kerjasama serta pendekatan.

Kesemuanya organisasi ini disebut dengan Pergerakan Nasional. Berbicara tentang pergerakan berarti ada proses perubahan secara terus menerus. Kalau kita hubungkan dengan Matematika, maka dapat kita equivalenkan dengan Transformasi. Transformasi terdiri dari rotasi, refleksi, dilatasi dan translasi. Pergerakan pasti dimulai dari rotasi, yaitu perputaran. Mereka melihat keadaan sekeliling. Para pemuda pelajar STOVIA berada pada lingkungan sekolah. Sekitarnya ada buku yang membuka mata dan pikirannya. Melalu sekitar sekolah mereka mampu melihat jauh keseberang termasuk kenegara Eropa dan Amerika. Mereka dapat membaca buku apa saja. Seperti Bung Karno yang belajar Tehnik tetapi dalam pergerakan mendapat tugas mengajarkan revolusi Inggris dan Rusia kepada pemuda dan masyarakat di Bandung dan daerah lainnya.

Transformasi kedua adalah refleksi atau pencerminan. Mereka bercermin dengan melihat diri sendiri. Bung Karno pergi ke sawah dan bertemu dengan seorang petani yang bernama Marhaen. Marhaen adalah pencerminan rakyat Indonesia ketika itu Lebih dari 70% penduduk kita seperti Marhaen baik sebagai pemilik sawah maupun sebagai penggarap.

Transformasi ketiga adalah dilatasi. Dilatasi artinya perbesaran atau perkecilan. Para pemuda Indonesia berpikir bagaimana membuat Indonesia yang besar. Besar dalam artian harga diri, paling tidak menjadi bangsa yang merdeka. Kemudian menjadi bangsa yang berdikari, tidak menggantungkan hidupnya terhadap bangsa lain. Bangsa yang mampu memenuhi kebutuhannya. Berdaulat secara ekonomi dan politik.

Transformasi keempat adalah translasi. Translasi adalah pergeseran atau perpindahan. Para pemikir bangsa, para founding fathers mampu melakukan usaha, perjuangan untuk mewujudkan sesuai betul dengan apa yang telah dirumuskan baik dalam tujuan organisasi masing-masing maupun dalam tujuan rangcangan Negara Indonesia merdeka.

Apakah kita sudah bangkit atau masih tidur? Apakah transformasi sudah selesai? Ya betul...kita sudah bangkit, tetapi belum berdiri kokoh. Kita masih rapuh. Pandangan masih berkunang-kunang. Masa depan masih remang-remang. Kita butuh setiap saat transformasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar