Laman

Translate

Jumat, 19 Juli 2013

Pembelajaran dari Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan di Riau dan sekitarnya, telah mengekspor asap ke Malaysia dan Singapura. Polusi tersebut telah melampaui ambang batas dan membuat sebagian besar masyarakat menggunakan masker. Kepala Negara kedua negara berang dan melakukan protes kepada negara Indonesia. Bahkan sejumlah negara anggota ASEAN telah mendesak Indonesia untuk segera meratifikasi perjanjian untuk mencegah kebakaran hutan. “Kami menekankan pentingnya bagi negara-negra regional untuk menegakkan kewajiban internasional mereka dan bekerjasama mengatasi polusi asap lintas batas”. Demikian isu yang mengemuka dalam pertemuan tingkat menteri luar negeri ke 46 ASEAN di Brunai Darussalam pada hari Minggu 30 Juni 2013. (Kompas, 2 July 2013).

Sebagai negara yang menjaga hubungan baik dengan tetangga, presiden telah meminta maaf kepada kedua negara. Didalam negeri pemerintah juga mengusut pengusaha yang membakar hutan. Diantara pengusaha yang diduga, ada juga pengusaha asal Malaysia. Kebakaran hutan tidak 100% diakibatkan oleh pembakaran hutan, akan tetapi tanah gambut yang dapat terbakar sendiri ketika suhu panas.

Wakil Presiden Jusuf Kala mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu meminta maaf kepada Malaysia dan Singapura. Satu bulan kita mengekspor asap, Malaysia dan Singapura sudah marah-marah. Tetapi 11 bulan kita mengespor oksigen, Singapura dan Malaysia tidak berespon apa-apa.

Ungkapan ini menyadarkan kita, akan tenaga atau kekuatan diplomasi Indonesia. Asap ini menyadarkan kita, menyadarkan Malaysia dan Singapura, bahwa Indonesia bertahun-tahun mengekspor oksigen secara gratis. Asap dan oksigen memiliki wjud yang sama, yaitu gas. Perbedaan terletak pada warna dan sifat. Oksigen tidak berwarna dan sangat diperlukan manusia dalam pernapasan manusia. Sementara asap berwarna putih kehitaman dan bersifat racun terhadap manusia. Asap ini sebagai pertanda atau indikator. Bila asap sampai ke Malaysia dan Singapura, maka oksigen juga sampai kesana. Kepadatan udara Malaysia dan singapura lebih rendah dibanding Indonesia. Kalau udara disana padat, pasti asap dan oksigen tersebut tidak sampai kesana, akan tetapi ke pulau Jawa. Inilah pelajaran berharga bagi Indonesia untuk meningkatkan daya diplomasi. Inilah pelajaran bagi Malaysia dan Singapura untuk menyadari fakta, bahwa mereka mendapat oksigen gratis selama 11 bulan setiap tahun sejak bumi ini ada. Tak terhingga hutang oksigen Singapura dan Malaysia kepada Indonesia. Semestinya hutang tak tertulis tersebut dapat dibayar dalam wujud yang lain. Disinilah diplomasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar