Laman

Translate

Selasa, 24 September 2013

Kurangi Ketergantungan

Ketergantungan merupakan sifat manusia sebagai mahluk sosial. Tak seorangpun manusia moderen mampu membebaskan diri dari ketergantungan terhadap orang lain. Tak seorangpun manusia yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Kita hanya bisa mengurangi derajat dan jumlah ketergantungan kita. Salah satu caranya adalah kompetensi atau kemampuan. Kompetensi didapat dari belajar baik formal terutama informal. Manusia mendapat pelajaran formal dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi secara informal tidak ada batas selama hayat masih dikandung badan. Belajar informal tidak mengenal ruang, waktu dan tempat. Inilah sesungguhnya belajar sepanjang hayat.

Kalau kita tingkatkan skopenya menjadi bangsa atau negara, maka dalilnya menjadi:"Semua negara tidak mampu melepaskan ketergantungannya dengan negara lain. Tak satupun negara dimuka bumi ini mampu memenuhi kebutuhannya untuk mensejahterakan rakyatnya". Hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mengurangi jumlah dan derajat ketergantungan. Inilah tugas utama dari seorang pengambil keputusan dalam satu negara.

Kebiasaan menkonsumsi tahu dan tempe membuat kita menjadi ketergantungan kepada kacang kedelai. Tugas kita adalah mengurangi derajat ketergantungan impor. Kesadaran akan ketergantungan tidaklah cukup. Tetapi harus berbuat sesuatu. Tentu saja tidak instan. Oleh karena itu diperlukan pendidikan dan penelitian. Pendidikan dan penelitian tidaklah cukup, tetapi harus ada tindak lanjut atau yang disebut dengan political wiill. Begitu banyak ketergantungan kita kepada negara lain. sebaliknya negara lain menikmati ketergantungan mereka kepada kita, kepada kekayaan alam kita.

Janji politik para calon legislator atau pemimpin daerah adalah janji yang mudah diukur keberhasilnya. Nyata dirasakan masyarakat. Bila perlu, mereka langsung memberikan uang seperti BALSEM atau BLT atau saudaranya. Bila perlu juga, ketika kampanye yang dibagikan bukan program, akan tetapi kaos atau uang.

Inilah saatnya untuk kita rakyat Indonesia yang sudah merdeka 68 tahun. Rakyat harus mampu menilai pemimpin atau calon pemimpin yang memiliki tendensi kuat untuk melaksanakan ajaran Bung Karno yang dikenal dengan TRISAKTI terutama kesaktian yang kedua yaitu BERDIKARI(berdiri di atas kaki sendiri) atau mandiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar