Laman

Translate

Senin, 19 Mei 2014

Kejahatan Sexual vs Pendidikan

Akhir-akhir ini marak pemberitaan kejahatan sexual terhadap anak-anak baik anak TK, SD, SMP maupun anak remaja. Tidak perlu diuraikan panjang lebar dalam tulisan ini. Misalnya yang terjadi di salah satu Sekolah Internasional di Jakarta Selatan.

Pelakunya adalah orang dewasa. Baik lelaki maupun perempuan. Para pengamat memunculkan bermacam-macam reaksi. Ada yang ngotot mengubah atau menambah kurikulum dengan memasukkan materi sex. Ada yang langsung mengajarkan sex terhadap anak-anak agar mereka dapat menghindar atau menolak. Sekalipun sex yang dimaksud adalah pendidikan, tetaapi tetap juga kurang tepat.

Sesungguhnya kita harus sadar sesadar-sadarnya. Belum waktunya anak kecil diajarkan sex. Sebab mereka sedang belajar dan berlatih. Waktu yang mereka miliki sekarang sedang berlatih menggunakan kaki, tangan dan seluruh anggota tubuh. Kalau anak-anak tidak berlari-lari bagaimana mungkin kaki dan badannya kuat? Kalau tangan tidak dilatih untuk bergerak, bagaimana mungkin tangannya kuat?

Disamping latihan fisik, mereka juga melatih logika berfikirnya. Mulai memahami sifat-sifat benda. Mulai memahami panas itu apa? Dingin itu apa? Air itu apa? Bolehkan bermain di kali? Mereka masih mencoba-coba atau sedang mengetahui ada apa dibalik larangan. Orangtua melarang main di taman. Dia mencoba bermain di taman, eh ternyata kena duri. Dia baru lebh patuh dan taat kepada orangtua. Karena dia tahu akibatnya.

Dengan kata lain usia anak-anak itu adalah usia bermain untuk melatih fungsi alat-alat atau organ tubuh supaya berfungsi maksimal. Sedikit demi sedikit mereka juga diajar tentang bersosialisasi dengan teman, guru maupun orangtua.

Sesungguhnya dalam kasus pelecehan sexual terhadap anak-anak ini tidak layak dibebankan pelajaran sex kepada mereka. Itu artinya mereka mendapat beban dua kali. Pertama sebagai korban sexual. Kedua sebagai korban pelajaran (kalau diajarkan apalagi pakai kurikulum segala). Orang dewasa yang bersalah, mengapa anak-anak yang jadi korban? Kita harus ingat kalau kemunculan kurkulum 2013 dimulai dari besar dan beratnya materi/kurikulum SD. Sekarang kita ingin menambah lagi. Kalau ini terjadi, tidak lama lagi kurikulum SD akan ditambah dengan pendidikan anti korupsi karena korupsi sedang marak. Kemudian ditambah lagi dengan kurikulum kemacetan, karena aktual macet di mana-mana terutama kota besar. Kemudian ditambah lagi dengan kurikulum narkoba, narkoba juga sering diberitakan di televisi. dan kurikulum macam-macam.

Kejahatan sexual (di sekolah) bukanlah masalah kurikulum. Akan tetapi adalah masalah kriminal dan manajemen. Guru BP harus mampu melaksanakan bimbingan konseling dengan baik. dia harus mampu mengeruk sebanyak-banyaknya informasi. Informasi tersebut harus dapat ditafsirkan dan diinterpretasikan. Kelemahan kita adalah kurangnya sikap kritis. Harus peka terhadap rangsangan. Setiap perubahan atau stimulus harus memunculkan sikap. Sikap kritis muncul akibat kita mampu menempatkan segala sesuatunya pada tempat yang wajar atau yang semestinya. apabila kita mampu menempatkan pada logika. Biarlah logika yang mengajarkan kita kebenaran. Biarlah logika yang memberi kita petunjuk arah atau signal yang akan terjadi.

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari kejahatan sexual.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar