Laman

Translate

Kamis, 24 Oktober 2013

Sampai kapan guru memeriksa buku catatan?

Pada zaman sebelum kemerdekaan, orangtua kita belajar tanpa menggunakan buku catatan. Mereka mencatat pada sebidang alat seperti papan tulis. Catat, kemudian hapus. Ada materi baru, materi lama dihapus. Buku catatan berfungsi untuk menyimpan sementara, sebelum kita simpan di otak. Mereka hanya memiliki waktu beberapa menit untuk memasukkannya ke otak. Tentu saja hasilnya tidak maksimal. Tetapi konsentrasi siswa sangat tinggi. Sesungguhnya itu yang sangat diperlukan.

Berbeda dengan sekarang. Buku catatan berlimpah. Jangankan buku catatan, catatan elektronik juga ada yang sanggub menyimpan jutaan halaman. Hampir semua informasi yang diperlukan oleh siswa dapat dicari dengan mudah. Pertanyaan adalah apakah siswa memiliki acceptabiliy dan kemauan?

Mengapa siswa mencatat? Kalau usia SD, siswa disuruh untuk menulis. Tentu saja untuk melatih menulis dan memindahkan materi kebukunya. Agar tangannya lincah dan terbiasa mencatat. Agar tulisannya rapih dan bagus. Catatan tiap siswa homogen atau hampir sama dengan catatan temannya. Sesuai dengan perkembangan usia dan tingkat pendidikan, maka isi catatan siswa semakin beragam. Misalnya siswa SMK sudah mampu mencatat penjelasan yang dia anggab penting. Kemampuan menerima dan menentukan yang merupakan inti materi, sangat menentukan isi catatan siswa.

Ketika Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dinaikkan, maka ada banyak siswa yang tidak lulus. Konsekuensinya harus diremedial. Kita menjelaskan ulang, kemudian kita uji lagi. Kedua hal itu sudah dilaksanakan, tetapi tetap juga tidak lulus/kompeten. Jalan terakhir adalah ujian dengan membuka buku. Setelah membuka buku, memang ada sebagian besar mengerjakan lebih cepat dan benar. Aneh bin ajaib. Ada beberapa siswa yang tidak memiliki catatan dan tidak mampu mengerjakan soal. Mereka hanya asyik membolak-balik buku teks yang tebal samapai bel berbunyi. Apakah siswa yang sudah berusia 16-18 tahun harus diperiksa catatannya? Catatan yang dimaksud berbeda dengan Buku Tugas/Latihan.

Siswa yang paling parah adalah mereka yang memiliki catatan, tetapi tidak juga mampu mengerjakan soal sekalipun open book. Kelihatannya rajin. Mereka menganggab semuanya beres ketika sudah mencatat dengan baik. Mereka ini terjebak dengan rutinitas mencatat. Padahal yang utama adalah pengertian. Catatan hanyalah sebagai pengingat akan hal yang utama/penting. Penjelasan berikutanya sangat tergantung dari pengertian yang sudah dimiliki dan pengulangannya/latihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar