Laman

Translate

Senin, 31 Juli 2017

PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA DI SEKOLAH



Pendahuluan

Semua teory belajar mengandung arti bahwa seseorang dikatakan berhasil dalam belajar jika terjadi 3 perubahan dan perubahan itu berlangsung relative lama. Perubahan dalam pengetahuan (knowledge, kognitif), perubahan dalam keterampilan (skill, psikomotorik), dan perubahan dalam sikap (attitude, afektif). Ketiga aspek inilah kandungan kompetensi. Jika besar tiap perubahan berada pada atau lebih dari nilai minimum yang ditetapkan, maka seseorang (peserta didik) dikatakan kompeten.

Pengetahuan lebih condong pada tingkat inteligensi. Semakin banyak yang dia tahu semakin tinggi tingkat inteligensinya. Semakin dapat mengkombinasikan pengetahuan yang satu dengan pengetahuan yang lain untuk mendapatkan ide atau gagasan semakin cerdas orangnya. Kecerdasan juga dapat berupa kemampuan untuk menggali kembali dan menggunakan/mengkombinasikan pengetahuan untuk mendapatkan pengetahuan yang lain untuk diaplikasikan.

Keterampilan berlandaskan pada pengetahuan. Tanpa pengetahuan tidak ada keterampilan. Semakin cepat seseorang menggali kembali pengetahuan dan mengkombinasikannya sehingga terbentuk ide atau gagasan baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan, orang itu disebut terampil menulis, terampil berbicara. Keterampilan dapat dibangun melalui latihan. Kata orangtua, “bisa karena biasa”. Pepatah yang lain yang hampir dekat adalah “setumpul-tumpul pisau, kalau diasah tajam juga”. Jadi keterampilan berhubungan dengan waktu dan latihan/frekuensi/kebiasaan. Parameter waktu dan frekuensi membutuhkan energy/tenaga dan konsentrasi.

Pertanyaan yang mengukur psikomotorik sering saya ajukan kepada siswa jurusan adiministrasi Perkantoran (Sekretaris). Pertanyaan pertama, apakah seorang Professor bisa mengetik surat? Semua menjawab: “Bisa”. Pertanyaan kedua, siapa lebih cepat mengetik surat, Professor atau siswa Jurusan Administrasi Perkantoran? Professor pak. Kata siswa yang lain. Ada juga yang tidak menjawab apa-apa. Seakan akan mereka enggan mengatakan bahwa mereka lebih cepat mengetik surat ketimbang Professor. Kemudian saya berkata: “ Kalianlah yang lebih cepat mengetik surat dari Professor. Sebab seorang Professor tidak bertugas untuk mengetik surat. Jadi tidak terbiasa. Seorang professor lebih mengandalkan otak ketimbang tangan. Tetapi kalian sudah di ajari dan di latih mengetik berbagai macam surat, dengan minimum 150 epm (entakan per menit) atau bahkan mengetik tanpa melihat tuts sama sekali.”

Kapankah muncul sikap? Pertanyaan ini sangat penting. Ketika pertama sekali muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004, muncul kata “performance indicator” pada salah satu kolom kurikulum, yang diartikan dengan indicator kinerja atau performa atau sikap kerja. Performa tersebut berasal dari rangkaian panjang usaha sekolah kejuruan mendekatkan diri dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang dikenal dengan link and match. Yaitu kesesuaian/kecocokan dan keselarasan antara Sekolah dengan DUDI. Salah satu wujudnya dalam bentuk kurikulum adalah KBK. Bagian dari KBK tersebut adalah performance indicator. Performa atau sikap kerja apakah yang diperlukan oleh anak dalam mempraktekkan kompetensi yang sedang dipelajari?

Misalnya kompetensi yang sedang dipelajari adalah Mengetik Surat. Maka salah satu sikap kerjanya adalah Badan Tegak. Sekalipun sikap itu tidak ditunjukkan siswa (mengetik dengan bungkuk), bukan berarti pekerjaan tidak selesai. Jadi sikap kerja ini tidak mengukur kompetensi Mengetik yang hanya dilihat dari hasil yaitu surat semata, tetapi berhubungan dengan etis, keselamatan, kesehatan kerja dan norma. Sikap Kerja ini lebih penting bila kompetensinya berhubungan dengan alat tehnologi tinggi, alat berat atau alat yang mahal dan beresiko tinggi. Sikap seorang pilot harus tetap terjaga, jangan sampai bercengkrama dengan orang lain. Oleh karena itu, performance indicator sangat diperlukan untuk Mata Pelajaran Produktif yang berhubungan langsung dengan kerja. Sebaliknya Mata Pelajaran adaptif seperti Matematika tidak begitu memerlukan performance indicator.

Sikap kerja (performance indicator ) ini sering dianggab sama dengan attitude (afektif). Sesungguhnya memiliki perbedaan yang sangat jauh. Afektif merupakan respon akibat kita peroleh pengetahuan atau dan keterampilan yang baru. Setiap siswa memiliki sikap yang berbeda bila menerima pengetahuan dan keterampilan yang sama. Sebaliknya setiap siswa harus memiliki sikap kerja yang sama bila menerima pengetahuan dan keterampilan yang sama pula. Mengukur sikap kerja sangat mudah, tetapi sebaliknya mengukur sikap (attitude, afektif) sangat susah. Misalnya seorang guru memperkenalkan seekor ular kepada siswanya. Pasti setiap siswa menunjukkan respon yang berbeda-beda. Mungkin ada yang berteriak, ada yang ketakutan sambil menjauh dan mungkin juga ada yang ingin memegangnya. Ketika siswa melihat ular tersebut makan babi hutan (memberikan pengetahuan baru akan sifat ular), mungkin jumlah siswa yang ketakutan bertambah. Jadi semakin banyak pengetahuannya, sikapnya juga bisa berubah.

Tugas guru atau Kepala Sekolah adalah bagaimana menciptakan supaya terjadi proses belajar. Disinilah dituntut tugas guru sebagai fasilitator untuk menyajikan dan menyusun materi pelajaran sehingga mampu menjadi stimulus. Siswa mengalami perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan itu cukup lama dan mampu menangkap perubahan yang baru lagi dan seterusnya sehingga terbentuk siswa dan manusia Indonesia yang cerdas (cognitive), yang terampil (psikomotorik) dan manusia yang berkarakter ( sesuai dengan afektif).

Pembentukan Karakter

Sebagimana sudah dibahas di atas, bahwa setiap orang memiliki respons yang tidak sama atas suatu stimulus yang sama. Setiap orang juga akan mengalami perubahan respons bila disuguhi beberapa kali stimulus yang sama atau hampir sama. Sebab manusia disebut sebagai mahkluk individu. Manusia adalah unik. Persoalan adalah bagaimana menyusun dan menyajikan stimulus yang sama tersebut. Kapan disajikan?

Contoh Kasus Pertama. Air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Bila air dipanaskan akan memuai (kecuali pada suhu dari 0 oC hingga 4 oC, volume air malah menyusut yang disebut dengan anomali air), dan bila suhunya sampai 100oC atau lebih akan menguap. Bila air didinginkan maka volumnya akan menyusut dan bila hingga 0 oC atau hingga sampai pada suhu negative maka air tersebut akan berubah wujud menjadi padat (es). Demikianlah sifat air. Mau dimanapun dan kapanpun air seperti itu. Air tidak mengenal orang, air tidak mengenal bangsa, tidak mengenal suku, tidak mengenal Negara. Tetapi air mengenal wadahnya, air mengenal perbedaan tempat, dan mengenal suhu. Karena sifat air tersebut yang tidak pernah ingkar, maka manusia dapat mempercayainya 100% untuk dimanfaatkan. Setiap karakteristik air dapat dimanfaatkan demi kemakmuran umat manusia. Karakteristik “mengalir dari tempat tinggi menuju tempat rendah” manusia memanfaatkannya untuk transportasi, untuk pembangkit listrik, olah raga, dan lain. Karakteristik “membeku” dimanfaatkan manusia sebagai pengawet makanan, penyejuk minuman. Karakteristik “menguap” digunakan manusia sebagai pembangkit listrik dan juga untuk memasak makanan. Karakteristik “cair” dimanfaatkan manusia sebagai katalisator (pelarut). Makanan yang kita makan tidak berguna bila tidak ada air yang melarutkannya. Tubuh kita terdiri dari 80% air yang berfungsi sebagai katalisator. Itu adalah karakteristik air, bagaimana dengan karakteristik (karakter) manusia?

Contoh kasus kedua Misalnya seorang siswa SD kelas 6. Tentu saja dia sudah belajar selama hampir 6 tahun. Kita beri stimulus berupa pertanyaan, “Apakah cita-citamu”. Anak itu menjawab, “jadi dokter pak”. Tahun berikut dia masuk SMP. Disana belajar hampir 3 tahun. Dijejali kompetensi matematika, IPS, IPA, Bahasa Inggris dan lain-lian. Dalam 3 tahun tersebut dia menerima banyak pengetahuan, baik formal dari sekolah maupun informal berupa pengetahuan yang didapat dari lingkungannya. Dia sudah mulai tertarik dengan berita televisi dan media cetak yang sering membahas korupsi. Kemudian stimulus yang sama kita berikan, “Apakah cita-citamu?”. Dia menjawab, “Saya mau jadi pengacara pak”. Pada saat ini sikapnya sudah berubah. Cita-cita pertamanya adalah dokter. Sekarang berubah menjadi pengacara. Ketika siswa tersebut tamat SMP dan masuk pada SMA, kita berikan lagi stimulus yang sama. “Apakah cita-citamu ?”. Dia menjawab, “Saya mau jadi pengacara pak”. Setelah tamat SMA, dia melanjutkan ke perguruan tinggi dengan jurusan hukum. Stimulus yang sama diberikan, “Apakah cita-citamu?. Dia menjawab, “ pokonya saya mau jadi pengacara yang kondang”. Pada tahap ini sikap sudah tidak berubah. Pada kondisi ini, kita menyebut si mahasiswa sudah berkarakter, yaitu konsisten.

Barangkali orangtuanya sudah merayu agar jadi dokter. Sudah menjanjikan beli mobil asal mau jadi dokter. Tetap juga pilihannya harus jadi pengacara. Dalam contoh kasus ini pembentukan karakter memerlukan waktu lebih dari 10 tahun. Dimulai dari dia SD,SMP dan dijejali dengan kompetensi pada SMA hingga pada Perguruan Tinggi.

Contoh kasus ketiga. Misalnya siswa jurusan Tahknik Komputer Jaringan (TKJ) memiliki pengetahuan dan keterampilan merakit Komputer. Ketika dia melihat tetangganya yang sedang masalah dengan komputer, maka dia langsung menawarkan bantuan dengan berkata: “Komputer bapak ini harus dirakit ulang dan saya sanggub melakukannya. Bapak tak perlu pikirkan jasanya.” Disini muncul sikap dermawan.

Pada kesempatan yang lain, temannya jurusan Adminstrasi Perkantoran menghadapi masalah dengan komputernya. Komputer tersebut butuh rakit ulang. Siswa TKJ berkata: “Wani Piro”. Disnilah muncul sikap komersil. Kejadian berulang lagi. Kali ini temannya siswa jurusan akuntansi. Setelah merasakan nikmatnya duit yang diberikan temanya, maka dia berkata:”Sebagai teman, saya akan siap membantu. Setiap bulan saya rutin membeli majalah Komputer. Setiap malam saya membuka internet. Semuanya itu memerlukan duit. Kau kasih sajalah aku Rp 500.000. Pokonya besok kau terima beres.” Dalam tahap ini siswa tersebut sudah mengalami pematangan sikap, yang disebut dengan karakter, yaitu komersil.

Dalam tulisan ini, karakter saya bagi dua bagian. Karakter dasar dan karakter lanjutan. Karakter lanjutan. Karakter dasar adalah karakter yang muncul karena interaksi dengan dirinya sendiri. Sedangkan karakter lanjutan adalah karakter yang muncul akibat berinteraksi dengan orang atau kelompok/organisasi.

Karakter Dasar.

Karakter pertama adalah logis. Logis adalah sikap orang yang selalu menggunakan logika. Logis dapat juga diartikan dengan perbuatan atau sikap atau prilaku yang masuk akal, sesuai dengan norma, sesuai dengan aturan umum atau sesuai dengan kebiasaan dan sesuai dengan hukum. Perbuatan yang logis tersebut sesuai dengan alur pikiran atau logika. Bersifat hormat kepada orang yang lebih tua adalah logis. Ketika guru berbicara (menjelaskan materi) dan siswa tidak berbicara adalah logis. Tidak logis ketika guru menjelaskan dan siswa berbicara juga. Lebih tidak logis lagi siswa tersebut membicarakan bukan materi yang sedang dipelajari. Ketika kita sedang berbicara dan siswa yang sedang kita ajar juga ada yang sedang berbicara dan langsung kita berikan teguran adalah sikap logis. Isi teguran yang kita berikan menjelaskan bahwa perbuatannya tidak sopan dan dapat mengganggu konsentrasi teman yang lain. Kurang logis bila kita langsung memarahi atau menghukumnya tanpa meminta penjelasan dan pertanggungjawabannya.

Ketika seorang siswa menertawakan kesalahan siswa yang lain juga tidak logis. Peristiwa ini sering terjadi. Sesungguhnya mereka yang ketawanya paling lebar tidak jauh beda dengan temannya yang sedang melakukan kesalahan. Tertawa muncul ketika ada yang lucu, bukan karena orang melakukan kesalahan. Justru manusia tidak pernah luput dari kesalahan.

Siswa yang pendek atau dan kecil duduk di depan di ikuti dengan siswa yang lebih tinggi atau besar duduk di belakang adalah logis. Tidak logis kalau siswa duduk sesuka hatinya. Bila siswa yang satu menghalangi siswa yang lain, akan menciptakan suasana yang tidak kondusif. Dari segi estetika, logika juga menghasilkan keindahan.

Tugas guru adalah untuk meletakkan segala sesuatunya dalam logika. Semuanya harus logis, terutama penyusunan kata-kata dan penyusunan bahan ajar. Inilah tugas yang paling berat. Bila sesuai dengan logika, maka orang lain akan mudah mengerti. Materi disusun mulai dari yang paling sederhana menuju ke yang kompleks. Mulai dari yang mudah menuju ke hal sukar. Setiap materi diberikan konsep yang jelas, yang menjadi pedoman untuk materi selajutnya. Defenisi disusun sehingga tidak multi tafsir. Latihan disajikan tidak selalu menghitung, akan tetapi mencoba menggunakan logika dengan jawaban benar atau salah. Benar atau salah adalah sikap yang harus ditunjukkan dalam waktu singkat. Logika dapat mempermudah dan mempercepat pekerjaan. Perhitungan adalah alat untuk membuktikan sikap tersebut. Benar atau Salah memiliki dua alternative jawaban. Bentuk latihan ini dapat juga dikembangkan sehingga alternative jawaban 4 atau 5 yang disebut dengan Pilihan Berganda. Disamping logika menghemat energy, logika juga sebagai indicator, apakah hasil perhitungan kita logis atau tidak.

Contoh soal: Tantri membeli buah Rp 30.000.000. Karena kemacetan yang luar biasa, maka dia rugi 25%. Maka besar penjualan Tantri adalah…. a. Rp 37.500.000 b. Rp 30.000.000 c. Rp 22.500.000 d. Rp 7.500.000 Penyelesaian: Pertama kita menggunakan logika. Karena Tantri rugi, maka besar penjualan lebih kecil dari 100%, atau lebih kecil dari Rp 30.000.000. Pilihan yang sesuai logika adalah c atau d, dan jawaban yang paling tepat adalah c. Sementara d yaitu Rp 7.500.000 terlalu kecil, karena kerugian hanya 25%.

Kedua dengan menghitung. Penjualan= (100%-25%).Rp.3.000.000 = 75%. Rp.3.000.000= Rp 22.500.000. Di samping logis juga menyangkut kepatutan/kepantasan, kewajaran yang menyangkut manusia, tetapi juga menyangkut biologis, fisik, maupun kimiawi. Itu logis kalau pohon kelapa tumbuh dan berbuah di tepi pantai, karena itulah habitatnya. Tetapi menjadi suatu yang tidak logis, tidak masuk diakal atau di luar jangkauan pikiran manusia bila pohon kelapa tumbuh dan berbuah baik di puncak gunung Merapi. Itu logis kalau air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Tetapi menjadi sesuatu yang tidak logis kalau air mengalir dari pantai ke gunung. Sesuatu yang tidak logis menimbulkan rasa ingin tahu.

Tidak logis, air bekas celupan batu seorang bocah Ponari mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sikap logis mampu menghindari kita dari tipuan atau godaan ataupun kesesatan berpikir. Logika membuat orang berpikir rasional, abstrak, cermat, objektif dan kritis. Akhirnya logika mampu meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri atau menambah kecerdasan seseorang.

Karakter dasar kedua adalah kritis. Pada ilmu matematika terutama pada fungsi, kita jumpai titik kritis. Fungsi Kuadrat memiliki satu titik kritis yaitu titik puncak maksimum atau titik puncak minimum. Sementara pada fungsi polynomial kita jumpai ada 3 jenis titik kritis yaitu titik puncak maksimum, titik belok dan titik puncak minimum. Pada titik ini terjadi perubahan gradient (kemiringan garis lurus di lihat dari sumbu x). Di sebelah kiri titik puncak maksimum memiliki gradient positif (naik), kemudian pada satu titik (titik kritis/titik puncak) memiliki gradient nol (datar) dan sebelah kanan kurva/grafik memiliki gradient negative (turun). Jadi titik kritis merupakan titik perpisahan antara naik dengan turun. Sementara pada titik kritis berupa titik belok, terjadi perubahan gradient dari naik menuju nol dan naik kembali atau dari turun menuju nol dan turun kembali.

Kata kritis juga dipakai untuk orang yang sakit. Kondisinya kritis, artinya orang tersebut berada pada titik antara hidup dan mati. Dia sudah melewati titik kritis. Artinya sudah mulai sembuh. Kritis yang kita maksudkan dalam tulisan ini adalah sikap yang muncul akibat diterimanya pengetahuan/pelajaran. Kemampuan untuk melihat benang merah persoalan. Ada 3 defenisi kritis yang berhubungan dengan sikap : 1) bersikap tidak lekas percaya, 2) bersikap selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan, 3) tajam dalam menganalisa (http://www.artikata.com/arti-336505-kritis.html).

Sikap tidak lekas percaya sama artinya dengan kondisi siswa kritis antara ya atau tidak. Antara percaya atau tidak percaya. Kondisi ini menuntut siswa bertanya untuk mencari informasi yang meyakinkan untuk mengambil keputusan. Apakah informasi menyangkut kelemahan/kekeliruan maupun untuk mencari kelebihan, atau mencari sebab atau alas an. Disinilah kritis jadi diartikan dengan analisa yang tajam.

Kritis bersesuaian dengan sikap logis. Logis selalu dikaitkan dengan implikasi. Jika begini, maka begitu. Kritis merupakan kemampuan dan keberanian untuk melihat dan mengutarakan kesesuaian sesuatu dengan logika. Bila logika belum tertanam dengan baik, atau bila seseorang belum memiliki sikap logis, maka sikap kritis susah ditemukan.

Contoh kasus kempat. Pada Ulangan Umum suatu sekolah, ditemukan soal matematika tidak memiliki nomor 1. Soal di mulai dari nomor 2. Tetapi nomor 20 ada dua. Seketika semua siswa saling Tanya dan juga pengawas. HP juga berdering dari beberapa pengawas. Panitia memanggil guru pembuat soal (yang mengajarkan matematika) selaku penyusun soal dan menyarankan agar diumumkan melalui mikrofon, apakah nomor 1 bonus atau bagaimana. Sang guru menjawab, bahwa pengumuman melalui mikrofon tidak perlu. Kesalahan kita, tidak perlu diketahui orang luar, cukuplah kisa saja yang mengetahui. Inilah sikap yang wajar atau logis. Kemudian sang Guru coba menjelaskan kepada dua orang pengawas yang menemuinya di ruang panitia. Seorang dari mereka dengan cepat mengerti dan mengumumkannya kebeberapa ruangan. Akhirnya Sang Guru masuk ke ruangan dimana pengawas yang menemuinya. Lalu berkata kepada siswa dalam ruangan itu, “…belajar matematika, berarti belajar logika. Dengan logika kita harus mampu menemukan solusi yang pasti dari persoalan yang muncul seperti ini”. Tolong urutkan mulai dari nomor 1. Sehingga nomor 20 yang pertama menjadi nomor 19.

Dari contoh kasus di atas, 10 orang pengawas dan 180 siswa sudah menunjukkan “kritis”. Mereka tidak menemukan soal nomor 1, dan menemukan 2 soal nomor 20 yang berbeda. Mereka belum mampu melampaui titik kritis tersebut. Mereka masih berada pada batas antara ya dan tidak. Tidak berani memutuskan untuk mengatakan: “urutkan saja mulai dari nomor 1”.

Contoh kasus kelima. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk memeriksa Pekerjaan Rumah (PR) siswa ditempat. PR dikerjakan pada modul. Sebelum pelajaran di mulai, PR diperiksa-satu persatu. Siswa menunjukkan pekerjaanya, sambil berkata: “ ini nomor 1, nomor 2, …., nomor 10”. Ketika seorang siswa menunjukkan: “ Ini nomor 1 (sambil menunjuk), nomor 2….7, a..eee., 9, dan ini nomor 10”. Dia menunjuk dengan cepat, tetapi macet sesudah nomor 7. Dan ternyata dia tidak menemukan nomor 8, sambil menggeser telunjuk kemana-mana.

Secara logika, bila dia memang benar mengerjakan PR sendiri, maka dia harus mampu menunjukkan dengan tepat nomor. Ketidak mampuan menunjukkan nomor 8 menjadi pertanda awal untuk dicurigai. Tindakan selanjutnya adalah memeriksa kesesuaian nama siswa dengan nama yang tertulis pada modul. Ternyata siswa tersebut telah melakukan penipuan. Kemampuan ketidaksesuaian dengan logika inilah yang kita namakan kritis. Dalam hal ini kritis mampu membongkar penipuan.

Contoh kasus kenam. Dua orang polisi sedang bertugas di tengah kota. Mereka mengamati setiap orang yang lewat melalui sebuah mobil. Polisi A: ”itu lelaki yang sedang memakai jaket perhatikan!”. Polisi B: “Mengapa harus diperhatikan?”. Polisi A: “sekarang musim panas, mengapa pakai jeket yang tebal?” Polisi B: “ baik, ayo kita ikuti” Polisi A: “ selamat siang pak!, apakah ini rumah anda? Berjaket : “ Betul pak polisi, apakah aku melakukan kesalahan?” Polisi B: “ Tolong jaketnya dibuka pak!” Berjaket: “ baik pak” Polisi A: “ apakah anda memiliki izin kepemilikan senjata” Berjaket: “Oh tentu pak, kalau yang ini saya punya pak. Ini dia surat izinnya”

Kalimat “Kalau yang ini saya punya pak!” menjadi petunjuk bagi polisi untuk mengambil kesimpulan bahwa masih ada senjata yang lain. Ternyata pria berjaket tersebut menyimpan banyak senjata yang tidak memiliki izin. Kekritisan polisi mampu mengetahui adanya senjata yang tersimpan, dimana sewaktu-waktu dapat disalahgunakan oleh pria berjaket tersebut atau orang lain untuk kejahatan. Bagaimana menimbulkan kritis? Pada mulanya adalah ketertarikan atau kesenangan. Semua orang akan senang belajar apa bila mudah dimengerti. Ketertarikan akan menimbulkan keinginan yang lebih. Minta penjelasan yang lebih. Dengan kata lain siswa yang sudah merasa tertarik, akan mengajukan pertanyaan, baik yang menuntut penjelasan, perbaikan, maupun menyatakan ketidaksetujuan. Ada juga dengan kesengajaan membuat kesalahan dengan harapan ada siswa/orang yang mengajukan pertanyaan atau kritik. Sejatinya, kritik datang ketika terjadi kesalahan yang tidak disengaja. Kita menjelaskan dengan kecepatan tinggi, dengan harapan ada siswa yang protes. Kita menulis dengan tidak jelas, dengan harapan ada siswa yang protes, hanya sekedar memancing kehadiran kritik.

Contoh kasus ketujuh. Dalam ulangan umum suatu sekolah didapat soal matematika bentuk pilihan ganda sebagai berikut: Himpunan Penyelesaian dari adalah…. a){x/x<-2}, b) {x/x>-2}, c){x/x<-6} d){x/x<-12} e) {x/x<12}. Dari kelima alternative jawaban ini tidak satupun jawaban yang benar. Dengan kata lain ada kesalahan soal pada alternative jawaban. Lebih dari setengah siswa memilih alternative a. sebagian lagi berharap pada “bonus”. Hanya ada satu siswa yang memilih a) dan membenarkan jawabannya menjadi {x/x ≤2}. Itulah jawaban yang paling tepat.

Terkadang ketertarikan atau kesenangan siswa tidak muncul, bahkan muncul sikap yang antagonis. Disinilah kita menerapkan paksaan. Paksaan yang dimaksud adalah eksekusi aturan dengan tegas. Mulai dari aturan yang disepakati bersama antara guru dan siswa, aturan yang disepakati bersama di kelas hingga pada aturan sekolah.

Pertanyaan kedua adalah bagaimana memelihara kritis? Terkadang sikap kritis hilang hanya karena kita kurang bijaksana menanggabil pertanyaan atau kritikan siswa. Tanpa memperdulikan apakah benar atau salah, semestinya harus ditanggabi dengan bijaksana. Tidak langsung memotong atau mematikan pertanyaan. Tidak memarahi apabila pertanyaan itu benar-benar jauh dari harapan. Tidak melecehkan pertanyaan siswa apalagi membuat malu dihadapan siswa yang lain. Semestinya harus memberikan pujian atau terimakasih atas kritikan atau pertanyaan. Memang pekerjaan yang susah dilaksanakan. Karena emosi datang dengan tiba-tiba. Ucapan datang tanpa sengaja, penyesalan dan kesadaran datang terlambat.

Pertanyaan ketiga adalah bagaimana mengendalikan kritis? Di satu sisi, kita harus mampu membangkitkan kritis siswa. Di sisi lain, siswa yang terlalu kritis juga dapat menghambat kelangsungan belajar mengajar. Terkadang kritis seperti api atau air. Api atau air dalam jumlah sedikit atau secukupnya akan berguna bagi kehidupan. Air untuk minum, mandi, mencuci dan lain-lain. Air yang terlalu banyak (tidak terkendali) akan menghancurkan kehidupan. Air mampu membawa lumpur, mengakibatkan longsor, menenggelamkan rumah bahkan mampu menyapu sebuah kota seperti terjadi di Aceh yang kita kenal dengan Tsunami Aceh pada 26 Desember 2006.

Apabila kesempatan diberikan kepada siswa, mereka akan cenderung untuk menggiring kesempatan tersebut kedalam suasana jenaka dan akhirnya guru kehilangan wibawa. Disinilah diperlukan tindakan tegas dari seorang guru tanpa menimbulkan ketakutan. Inti pengendalian ada pada guru dengan memegang teguh prinsip demokrasi pendidikan.

Jadi agar sikap kritis berubah menjadi karakter, maka diperlukan 3 hal sebagaimana diuraikan diatas. Pertama menimbulkan kritis. Kedua memelihara kritis. Dan ketiga dengan mengendalikan kritis sehingga bermanfaat pada diri siswa. Jangan kritis dibawa kepada hal yang negatif.

Karakter dasar ketiga adalah deskriptif. Pikiran dimulai dengan logika. Ketidak sesuaian dengan logika, atau kenaehan dengan logika, atau ketidak mengertian menghasilkan kritik. Orangnya adalah kritis. Sikapnya kritis. Kritis lebih bermanfaat apabila dibarengi dengan deskriptif. Desktiptif berupaya mencari penjelasan tentang keanehan tersebut.

Contoh Kasus kedelapan. Di ruang BP/BK SMKN 43 Jakarta dipajang beberapa grafik. Saya tertarik dengan dua buah grafik. Judul grafik adalah “Rekapitulasi Permasalahan Siswa Berdasarkan Hasil Konseling SMKN 43 Jakarta”. Grafik tersebut merupakan rekapan setiap tiga bulan sekali. Setiap grafik ada 15 variabel. Pada grafik pertama, ketidakhadiran siswa menempati masalah nomor urut kedua setelah sosial media. Tetapi pada grafik kedua, ketidakhadiran berada pada nomor 15. Artinya semua siswa hadir selama 3 bulan.

Kalau dilihat dari tampilan, grafik tersebut cukup bagus. Tetapi logika berkata, kok bisa tiba-tiba seperti itu. Apa mungkin dalam 3 bulan semua siswa dalam satu sekolah hadir? Pertanyaan itu saya tujukan kepada guru BP/BK? Dia menjawab:”Bisa saja pak.”. Kemudian saya lanjutkan pertanyaanya:”Perlakuan apa yang ibu lakukan?”. Ternyata sang guru tersebut tidak mampu menjelaskan dengan baik.

Dari contoh kasus ini kita dapat lihat bahwa sang guru tersebut tidak memiliki karakter kritis. Seandainya kedua grafik tersebut dikritisi, maka dia akan berusaha mencari jawabannya. Apakah data yang salah? Apakah ada kebijkan yang radikal yang dilakukan secara total oleh semua guru di SMKN 43?

Oleh karena itu, karakter deskriptif selalu dimulai dari kritis. Sementara kritis didasari pada logika. Mempertajam logika, berarti mempertajam kritis dan deskriptif.

Karakter dasar keempat adalah terampil. Terampil artinya cakap dalam melakukan sesuatu. Ukuran terampil adalah tepat dan cepat. Tepat artinya mampu mengerjakan dengan benar. Cepat artinya mampu mengerjakan dengan waktu sesingkat atau kurang dari waktu yang ditentukan. Inti dari terampil hanya 2 kata, yaitu tepat dan cepat. Supaya mampu mengerjakan dengan benar, diperlukan pengetahuan. Pengetahuan (teori) merupakan alat ukur kebenaran. Seseorang dikatakan terampil mengetik apabila mampu mengetik 240 epm (entakan per menit). Teorinya adalah siswa mampu menguasai tugas tiap jari, yang disebut dengan “Sistem 10 Jari”. Jari kelingking kiri bertugas mengetik huruf a, q, z, angka 1, tombol Shift, Tab dan CapsLock. Demikian seterusnya sehingga semua tombol dalam papan tuts (keyboard) terbagi habis oleh 10 jari tangan. Teori Sistem 10 Jari, tidak keharusan, akan tetapi sudah diakui umum bahwa system tersebut yang tercepat. Pengetahuan (teori) yang paling penting adalah tentang materi yang diketik. Misalnya siswa tersebut ingin mengetik surat pembelian barang. Siswa harus tahu bentuk surat yang digunakan dan juga menggunakan kata/kalimat yang baik sehingga maksud dari surat tersebut tercapai.

Inti terampil yang kedua adalah cepat. Agar mampu mengetik dengan cepat, harus membiasakan semua jari mengetik sesuai dengan fungsi masing-masing. Pertama, akan susah. Tetapi lama-lama akan terbiasa. Kalau sudah biasa, banyak orang mengetik tanpa melihat keyboard. Inti dari kata cepat adalah “terbiasa”. Suatu pekerjaan bila pertama sekali dikerjakan akan susah. Diperlukan lebih besar energy. Ibarat naik sepeda, pertama susah, memerlukan konsentrasi penuh, mata focus, fikiran focus, jalanan kosong dan ada pendamping. Setelah terbiasa, bisa naik sepeda sambil bernyanyi, melaju di jalan yang ramai dan sambil membonceng kekasih. Orang ekonomi menyebut kondisi seperti ini dengan barriers to entry. Susah memasuki pasar untuk pertama sekali.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa keterampilan dibangun dari kebiasaan. Dalam pelajaran, kebiasaan kita terjemahkan dengan latihan. Semakin banyak latihan, maka semakin terampil. Pertanyaanya adalah latihan yang seperti apa yang mampu meningkatkan keterampilan?

Pertama, kita menyusun latihan yang homogen. Homogen artinya, membuat beberapa soal yang sama atau memiliki indicator soal yang sama. Latihan ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman siswa terhadap satu konsep. Sebetulnya sama saja dengan mengulang. Akan tetapi bila mengulang untuk mengerjakan yang sama pasti menimbulkan kebosanan. Oleh karena itu diperlukan variasi. Suatu Kompetensi di bangun oleh beberapa konsep. Artinya kompetensi tersebut dibangun oleh beberapa Latihan yang homogen.

Kedua, kita mengulang atau mengaitkan pengetahuan/kompetensi sebelumnya atau kompetensi lain (mata pelajaran lain) ke dalam pengetahuan/kompetensi yang sedang dipelajari. Hal ini bertujuan untuk menimbulkan kesan kepada siswa, bahwa kompetensi sebelumnya atau Mata Pelajaran lain yang sudah dipelajari berguna, dan sekaligus membentuk pengertian yang komprehensif.

Ketiga, melakukan pemodelan. Pemodelan yang dimaksud adalah bentuk konversi dari kalimat verbal kedalam kalimat matematika. Tentu saja bertujuan untuk meringkas/menyederhanakan sehingga mudah diselesaikan. Disinilah kita dituntut untuk menyusun soal yang membutuhkan pemodelan.

Contoh soal: Pak Ahmad menjual 3 buah roti dan 5 mangkok Mie Ayam dengan harga Rp 81.000. Bu Ahmad menjual 2 buah roti dan 4 mangkok Mie Ayam dengan harga Rp 62.000. Berapakah harga sebuah roti dan harga semangkok Mie Ayam? Penyelesaian: Pemodelan yang kita lakukan adalah dengan pemisalan dan system persamaan. Misalkan r = harga sebuah roti, m = harga semangkok Mie Ayam. M dan r A. Maka kalimat diatas berubah menjadi: 3r + 5m = Rp 81.000; 2r + 4m = Rp 62.000.

Pada kompetensi sebelumnya/ kompetensi lain sudah dipelajari tentang Himpunan Bilangan. Variabel r dan m merupakan anggota bilangan Asli. Pada umumnya dalam pemodelan menggunakan bilangan Real (R). Tetapi faktanya harga sebuah roti merupakan Bilangan Asli. Penjualan Pak Ahmad dapat ditulis dengan 3r +5m = Rp 81.000, sementara penjualan ibu dapat di tulis dengan 2r + 4m = Rp62.000. Kedua persamaan dapat diselesaikan dengan metode substitusi, grafik, matriks atau eliminasi.

Karakter dasar kelima adalah mandiri. Seseorang mampu mandiri apabila memiliki cukup kemampuan atau kompetensi. Karakter dasar keenam adalah relijius. Relijius tentu saja berhubungan dengan agama masing-masing. Ketika logika kita sudah tidak dapat membantu, kita tidak dapat menjelaskan apa-apa, kita tidak dapat mandiri atau selalu bergantung pada orang lain. Selalu menyusahkan orang lain. Tidak mampu melakukan apa-apa. Disinilah kita mencari kekuatan yang lain. Kita butuh mujizat. Alamatnya adalah Tuhan Karakter dasar ketujuh adalah prediktif. Prediktif artinya mampu memperkirakan tendensi dari serangkain data. Atau mampu mengambil kesimpulan dari beberapa pernyataan. Karakter predikatif dapat dibangun dengan menyusun bahan ajar yang dimulai dari hal khusu menuju hal umum atau induktif.

Karakter Lanjutan.

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa karakter dasar mutlak diperlukan oleh setiap individu. Disamping dia sebagai individu, manusia itu butuh interaksi dengan orang lain. Dia membandingkan dirinya dengan orang lain. Apakah saya sama dengan orang lain. Tentu saja lebih pintar, lebih hebat adalah lebih terhormat. Lebih mendapat kesempatan. Disinilah muncul sikap kompetitif.

Sikap kompetitif harus dibangun dalam setiap pembelajaran ataupun dalam manajemen. Siswa yang lebih pintar mendapat nilai yang lebih baik. Dengan kata lain, setiap kelebihan orang semestinya mendapatkan hadiah, baik dalam bentuk nilai, uang, barang, jabatan ataupun sekedar pujian. Kita tinggal mengatur bagaimana bentuk kompetisi sehingga lebih adil, jujur dan transparan.

Karakter lanjutan kedua adalah demokratis. Demokratis diperlukan karena ada dua orang atau lebih. Manusia adalah mahkluk individu. Setiap manusia memiliki keinginan yang tidak pasti sama. Setiap orang punya pendapat mengutarakan keinginannya masing-masing. Hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana menghargai pendapat dan hak orang lain sehingga didapat solusi. Karakter demokrasi dapat dibangun dalam setiap pembelajaran dan manajemen.

Karakter lanjutan ketiga adalah kerjasama. Kerjasama tercipta karena memiliki asset/proyek/tujuan yang sama. Semua bagian proyek itu harus dikerjakan. Setiap orang harus mendapat bagian dan peranan. Itulah aspek yang diperhatikan dalam membangun karakter kerjasama. Kerjasama memelihara kelas dengan membentuk Daftar Piket. Kerjasama dalam mengerjakan Tugas.

Setiap orang mengerjakan tugasnya masing-masing. Bila tugas yang dibebankan dikerjakan dengan baik, kita sebut dengan tanggungjawab. Bila ada orang yang tidak mengerjakan tugasnya, maka harus ada orang lain yang berani dan mau menanggung beban tersebut. Itulah yang kita sebut dengan tanggujawab sosial. Tanggub jawab sosial merupakan karakter lanjutan yang keempat. Orang yang mau menanggung beban orang lain dalam rangka kepemilikan bersama, itulah yang kita sebut dengan pemimpin. Kepemimpinan perlu dibentuk menjadi karakter. Disamping menanggung beban orang lain, juga menyadarkan akan kepemilikan bersama, mengingatkan akan tugas masing-masing, mengingatkan akan komitmen masing-masing dan membina kebersamaan.

Karakter lanjutan terakhir adalah nasionalis. Nasionalis dibentuk dengan pengakuan satu bangsa, yang berarti saudara. Saudara memiliki ibu yang sama, yaitu ibu pertiwi. Nasionalis dibangun dengan bahasa ibu, yaitu Bahasa Indonesia. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan Benar. Nasionalis dibangun dengan berbagai kegiatan di sekolah seperti Upacara Bendera setiap hari senin. Upacara Bendera dan perayaan Hari Besar Nasional. Pemasangan gambar Pahlawan nasional, Presiden dan Wakil Presiden, Lambang Negara dalam setiap ruangan kelas dan kantor. Serta kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan nasionalisme siswa.

KESIMPULAN

Kita semua hidup dalam suatu sistem. Setiap orang memiliki peran masing-masing dalam sistem tersebut. Selaku Kepala SMK, berperan sebagai pemimpin yang berkarakter. Karakter harus dibentuk kepada semua orang, mulai dari Kepala sekolah, guru, staf tata usaha dan teritimewa siswa.

Karakter dibangun dari proses belajar. Proses belajar menghasilkan sikap. Pematangan sikap menghasilkan karakter. Disinilah peran guru untuk mendesign pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran tersebut dengan memperhatikan 3 hal pokok. Melalui pembelajaran guru mampu menimbulkan sikap. Sikap tersebut harus dipelihara sepanjang waktu. Dan hal ketiga adalah sikap dikendalikan.

Tugas Kepala Sekolah adalah memastikan bahwa ketiga hal pokok diatas tercipta dalam pembelajaran. Disamping pembelajaran, juga diterapkan dalam manajemen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar