Laman

Translate

Kamis, 21 Februari 2013

Cognitive C4 (Analyse)

Cognitive keempat dari Bloom adalah analisa (analyse). Analisa adalah kemampuan untuk merangkaikan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang utuh dan menguraikan kesatuan menjadi bagian-bagian yang utuh. Bila kita ibaratkan dengan sepeda. Seseorang dikatakan memiliki kognitive tingkat analisa apabila dia mampu mempreteli sepeda sehingga semua bagian terpisah. Ban, setang, pedal, roda, rantai, rem dan semuanya terpisah. Semua baut terbuka. Kemudian dia mampu memasangnya kembali sehingga berbentuk sepeda yang berfungsi dengan baik. Itulah contoh nyata dari analisa.

Kalau kita kaitkan dengan Mata Pelajaran Matematika, misalnya Persamaan Kuadrat x2-mx + 9 =0. Apakah pendapatmu tentang nilai m? Akar-akar Persamaan Kuadrat dapat ditentukan bila koefisien dan constanta diketahui. Dalam kasus ini koefisien m tidak diketahui. Tetapi dapat dianalisa dengan mencari diskriminan D. Dari hasil diskrimanan D kita peroleh 3 kemungkinan. Pertama bila m = -6 dan m = 6, maka Persamaan Kuadrat x2-mx + 9 =0 memiliki satu akar. Akarnya adalah 3 untuk nilai m = -6 dan akarnya adalah -3 untuk nilai m = 6. Kemungkinan kedua adalah Persamaan kuadrat x2-mx + 9 =0 memiliki 2 akar real yang berbeda bila nilai m < -6 atau m > 6. Kemungkinan ketiga Persamaan Kuadrat x2-mx + 9 =0 tidak memiliki akar real atau memiliki akar imajiner bila -6 < m < 6.

Menurut Guru Besar Matematika ITB Iwan Pranoto, bahwa budaya bernalar rakyat Indonesia pingsan sejak tahun 1970-an. Budaya bernalar tak subur dan kalah pamor dengan kepatuhan. Bahkan penalaran kerap dikorbankan demi kesantunan. Murid membeo. Murid menyalin persis ucapan guru. Ditambah lagi sistem pendidikan sekarang menguntungkan murid penyalin dan penurut. Lebih parah lagi, pertumbuhan budaya bernalar dirusak oleh kebijakan itu sendiri. Kebijakan yang paling efektif merusak penalaran siswa adalah Ujian Nasional (Kompas, 20 Februari 2013)

Pernyataan Sang Guru Besar ini layak kita analisa. Pertama kata “sejak tahun 1970-an”. Itu artinya dunia pendidikan kita memiliki nalar tinggi sebelum tahun 1970. Paling tidak itu dirasakan oleh sang Guru Besar. Salah satu tokoh Matematika yang mengajak masyarakat bernalar saat itu adalah Tan Malaka.

Kedua, pada era itu adalah era kepemimpinan Presiden Soeharto dibawah rezim Orde Baru. Orde Baru berkuasa selama 32 tahun. Rentang waktu sepanjang itu sudah cukup membentuk budaya hingga saat ini. Barangkali Budaya dalam pemerintahan dan politik menular kedunia pendidikan hingga ke ruangan kelas. Guru memberikan nilai bukan pada bobot soal, akan tetapi pada kepatuhan, ketaatan dan kesopanan. Nilai cognitive digantikan oleh nilai afektive, sehingga orang lebih mengembangkan afektive (sikap). Semestinya sikap itu muncul karena adanya cognitive, akibanya sikap yang muncul adalah palsu dan cognitive yang dinilai adalah bohong.

Ketiga, adalah kebijakan pemerintah yang merusak budaya bernalar siswa dan masyarakat. Ini sangat membahayakan kalau memang benar. Salah satunya adalah Ujian Nasional. Memang Ujian Nasional tidak pernah sepi dari kritikan. Pemerintah sudah berusaha membuat supaya dalam pelaksanaan UN lebih baik setiap tahun. Salah satu usaha tersebut adalah membuat soal yang berbeda untuk setiap siswa dalam satu kelas, sehingga tidak terjadi contek menyontek. Tahun 2013, UN akan diterapkan sebagai alat ukur untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Kempat, sebaiknya pak Prof. Iwan Pranoto menuliskan semua kebijakan yang memandulkan nalar siswa/masyarakat beserta alasan-alasannya sehingga pemerintah, DPR, rakyat dan stakeholder dapat memahaminya demi kepentingan pendidikan bangsa. Bila perlu dilengkapi dengan solusi terbaiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar