Halaman

Translate

Kamis, 28 Februari 2013

Kembar dan Daftar Pemilh

Pada tanggal 24 Februari yang lalu, Pemilihan Kepala Daerah Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat di laksanakan. Kondisinya berbeda dengan pemilihan sebelumnya. Kali ini peserta pemilik hak suara tidak terlihat ramai, alias sepi. Disinyalir ada lebih dari 30% yang Golongan Putih.

Sementara itu ada juga yang semangat memilih tetapi tidak terdapftar namanya dalam daftar yang ditempelkan di Tempat Pemilihan Suara (TPS). Setelah dikonfirmasi, ternyata petugas pencatatan mengambil kesimpulan sendiri. Masalahnya dia menemukan dua orang yang pemilih yang memiliki tempat kelahiran sama, tanggal kelahiran sama, jenis kelamin sama dan nama hampir sama. akhirnya petugas memutuskan bahwa orang itu adalah sama. Pasti terjadi kesalahan dalam input atau penulisan data.

Keputusan petugas ini salah total. Ternyata orang tersebut adalah kembar. Kita harapkan kepada mereka yang bertugas dalam pencatatan kependudukan agar melaksanakan tugas professional. Biarlah ini menjadi pelajaran untuk pemilihan berikutnya di seluruh Indonesia, baik Pilkada maupun DPR/D, DPD dan Presiden .
Read More..

Rabu, 27 Februari 2013

Fokus Pemberantasan Sajala.....ah

Kehadiran KPK karena ditengarai dalam penyelenggaraan negara ini dipenuhi dengan korupsi. Secara hukum, urusan korupsi menjadi tugas dan tanggungjawab polisi dan kejaksaan. Karena dirasa korupsi sudah menggunung, maka diperlukan PEMBERANTASAN. Sehingga pada era reformasi dengan dasar UU Nomor 30 tahun 2002 dikeluarkan undang-undang yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Sukarnoputri.

Kalau kita baca pembukaan undang-undang tersebut, maka kehadiran KPK karena dirasakan kinerja kepolisian dan kejaksaan masih rendah. Kalau kinerja polisi dan jaksa sudah maksimum, maka KPK tidak diperlukan. Tetapi setelah 10 tahun lebih, apakah kinerj Kepolisian dan Kejaksaan belum membaik? Pertanyaan ini layak di ajukan untuk menguji motif yang nyata dari pembentukan KPK.

Harus kita akui, bahwa kinerja KPK cukup bagus. Semua anak bangsa menginginkan KPK lebih kuat lagi. Masyarakat menumpukan harapan besar kepada KPK. Kadang masyarakat tidak sabar menunggu, siapa lagi yang dijadikan tersangka oleh KPK, sekalipun nama seseorang sudah sering disebut-sebut oleh saksi dalam persidangan. KPK selalu beralasan dengan menyebut, “belum ditemukan 2 bukti”. Alasan yang lain adalah masalah sumber daya manusia. Jumlah penyidik KPK sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penyidik KPKnya Malaysia. Jumlah petugas KPK hanya ratusan dengan penduduk Indonesia 230 juta, sementara jumlah petugas KPK Malaysia ribuan dengan penduduk 24 juta.

Kontradiksinya dimana? Jumlah petugas KPK sudah sedikit, tetapi mereka tidak fokus pada pemberantasan. Buktinya sebagian petugas KPK bergerak dalam bidang pencegahan dan pendidikan anti korupsi. Kenapa tidak semuanya di fokuskan pada bidang pemberantasan? Kalau kita lihat logo KPK, maka huruf P nya berwarna merah, sementara K berwarna hitam. Apa maksud warna itu? Pencegahan dan pendidikan anti korupsi percayakan saja (dulu) kepada lembaga Pendidikan dan Keagamaan. KPK sudah mengambil alih tugas dari Polisi dan Kejaksaan, apakah KPK mau mengambil alih tugas Pendidikan dan Agama juga? Petugas KPK juga kurang, jadi fokus PEMBERANTASAN ajala...ah!.
Read More..

KPK dan KPK

Kompetensi pertama matematika SMK adalah Menerapkan Konsep Bilangan Real. Kompetensi ini menuntut mulai dari konsep Bilangan Asli, Bilangan Cacah, Bilangan Negatif, Bilangan Bulat, Bilangan Pecahan, Bilangan Rasional, Bilangan Irasional, Bilangan Real dan Bilangan Imajiner. Intinya, mempelajari semua himpunan Bilangan.

Disamping konsep bilangan, fokus utamanya adalah bagaimana mengoperasikannya dengan menggunakan hukum matematika dengan tepat. Kita mendefenisikan operasi penjumlahan, perkalian dan pembagian baik terhadap bilangan Asli, Bulat maupun Bilangan Pecahan. Tentu saja kompetensi ini merupakan perulangan dari kompetensi yang sudah dipelajari siswa sejak SD dan SMP.

Kemunculan kompetensi ini pada SMK hanya untuk pemantapan dan memberikan jaminan bahwa siswa mengerjakan dengan prosedur yang benar. Karena perulangan, tampaknya ada siswa yang bosan. Ketika mengerjakan soal penjumlahan pecahan, tentu hukumnya adalah, pecahan dapat dijumlahkan bila penyebutnya sama. Operasi untuk menyamakan pecahan adalah dengan menerapkan prinsip kesamaan pecahan. Kesamaan pecahan artinya, pecahan akan bernilai sama bila pembilang dan penyebut dikali atau dibagi oleh bilangan yang sama.

Biasanya ketika SD atau SMP mereka langsung mencari Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Nah ketika berbicara KPK inilah, ada seorang siswa sedang menghayal. Untuk membangunkannya dari lamunan, terpaksa kita ajukan sebuah pertanyaan: KPK itu apa nak? Sang pelamun berkata: Komisi Pemberantasan Korupsi pak!. Betul....tetapi tidak tepat. Siswa yang lain menghukumnya dengan tertawa.
Read More..

Senin, 25 Februari 2013

Kali Keenam atau Enam Kali?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata kali adalah sebagai berikut:1 Kata untuk menyatakan kekerapan tindakan: dalam satu minggu ini, dia sudah empat kali datang ke rumahku. 2 Kata untuk menyatakan kelipatan atau perbandingan (ukuran, harga, dsb): harga barang kebutuhan pokok pada tahun ini dua kali lebih mahal dari pada harga pada tahun yang lalu; 3 Kata untuk menyatakan salah satu waktu terjadinya peristiwa yang merupakan bagian dari rangkaian peristiwa yang pernah dan masih akan terus terjadi: untuk kali ini ia kena batunya; 4 Kata untuk menyatakan perbanyakan atau pergandaan: dua kali dua sama dengan empat.

Arti kesatu, ketiga dan keempat adalah sama yaitu menyatakan perulangan. Arti kata keempat murni matematika yaitu 2 x 2 =4. Atau dapat juga ditulis dalam contoh yang lain yaitu 3 x 6 = 18. Defenisi perkalian menurut matematika adalah penjumlahan berurutan. Perkalian 3 x 6 artinya 6 + 6 + 6. Perkalian 6 x 3 artinya 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3. Apakah 3x6 = 3x6?

Karena berbicara matematika, maka jawabannya adalah “ya, sama”. Itulah namanya hukum komutatif penjumlahan. Yang sama adalah nilainya. Tetapi bila berbicara tentang proses, maka hal itu sangat jauh berbeda. Bila kita misalkan peristiwa itu adalah proses pemindahan beras di dalam gudang. Satu karung beras beratnya 25 kg. Maka peristiwa 3 x 6 artinya si Polan memngangkat/memindahkan beras 3 kali. Setiap kali dia mengangkut 6 karung beras atau 150 kg.

Sementara peristiwa 6 x 3 adalah si Pulan mengangkat beras 6 kali. Setiap kali dia mengangkat 75 kg (3 karung). Dari kedua peristiwa itu terdapat beberapa perbedaan. Siapakah yang paling kuat? Siapakah yang paling cepat memindahkan beras? Seandainya beras yang mau dipindahkan banyak, upah siapakah yang paling banyak? Jawabannya adalah si Polan. Disitulah perbedaanya. Peristiwa perkalian tidak pernah ada, kalau tidak pernah terjadi dalam kehidupan.

Akhir-akhir ini sering kita dengar pemakaian kata “kali” dengan rancu, baik oleh media elektronik, maupun media cetak. Misalnya: dia mengangkut beras kali keenam. Siapa yang mengangkut beras? Kata tanya “siapa”, digunakan untuk menanyakan subjek (pelaku). Maka jawabannya adalah dia. Apa yang dia kerjakan? Kata tanya “apa” menanyakan predikat, yaitu “mengangkut”. Berapa kali dia mengangkut? Kata tanya “berapa kali” menanyakan kata keterangan (adverb of frequency). Jawabannya adalah enam kali. Haruskah kita jawab dengan: kali keenam? Kamus besar Bahasa Indonesia juga tidak menulis kali keenam. Kalau kita membacaca “kali keenam”, bagaimana membaca 6x3?
Read More..

Kamu Layak di Penjara!

Salah satu kompetensi guru adalah pengelolaan kelas. Semua perhatian siswa tertuju pada satu hal, yaitu topik atau materi yang sedang berlangsung. Sudah merupakan kewajaran, bahwa ada satu atau dua orang yang tidak memusatkan perhatian. Demi kepentingan dirinya dan kepentingan kelas, guru wajib mengarahkannya ke tujuan yang sama. Usaha yang dilakukan guru inilah yang disebut dengan pengendalian kelas.

Salah satu ciri Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah berpusat pada siswa (student centered) menggantikan pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered). Tetapi hal itu tidak mungkin terjadi 100%. Kita harus menjaga keseimbangan. Kapan guru sebagai pusat perhatian dan sumber belajar dan kapan siswa sebagai pusat perhatian dan sumber belajar. Semuanya tergantung situasi dan pendekatan.

Bila kondisi semua siswa dalam kelas memiliki tingkat kemauan yang tinggi, maka sangat mudah melaksanakan student centered. Kita tinggal mengarahkan. Peranan guru sebagai fasilitator sangat terasa. Kita tinggal menyediakan dan menginformasikan apa yang mereka butuhkan dan apa yang akan mereka kerjakan. Kemudian kita lanjutkan dengan peranan kedua sebagai evaluator. Kita melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan dan terhadap proses pembelajaran. Disinilah dituntut siswa belajar aktif, baik di kelas maupun diluar kelas, baik belajar sendiri maupun belajar kelompok.

Masalah muncul bila semangat siswa rendah. Disinilah dengan terpaksa muncul teacher centered. Guru memberikan penjelasan dengan berbagai pendekatan. Lebih parah lagi, siswa mampu mendengar hanya dalam tempo beberapa menit, selebihnya pikirannya langsung berpindah haluan dan membentuk forum baru. Dia mengajak temannya berbicara. Mengajak mengganggu teman dekatnya, kemudian mengganggu teman yang lain. Seorang guru yang baik yang memiliki kompetensi pedagogik, harus mampu memulihkan kembali perhatiannya.

Mengapa orang masuk penjara?. Karena korupsi pak! Jawab siswa. Kamu layak dipenjara. Kamu sudah korupsi. Koruptor dipenjara karena mengambil hak orang lain. Kamu juga mengambil hak saya. Saya punya hak berbicara. Hak saya legitimate. Ada SK dari Kepala Sekolah. Hak berbicara saya itu kamu ambil, dan kamu berbicara dengan temanmu ketika saya berbicara. Hak orang lain juga kamu ambil. Siswa lain berhak mendapat penjelasan dari saya, tetapi kami rampas. Seketika siswa yang nakal diam.

Tidak lama kemudian siswa yang sama berbicara lagi. Sapi, kerbau atau binatang yang lain diajar dengan rotan. Manusia diajar dengan perumpamaan. Kita mempelajari Gaya Bahasa atau majas. Majas itu memperhalus kalimat. Mari kita cintai Bahasa Indonesia dengan menggunakannya. Kamu layak dipenjara, sama artinya kamu layak dirotan.
Read More..

Minggu, 24 Februari 2013

Manfaat Daun Sirsak

Manfaat daun sirsak cukup banyak dirasakan oleh penggunanya. Baik oleh pasien yang terkena kasus kanker atau tumor, maupun yang digunakan sebagai proteksi anti kanker. Penelitian obat herbal khususnya daun sisrsak di Eropa dipusatkan di Italia mengungkap daun sirsak mengandung zat anti kenker yang 10.000 kali lebih kuat daripada kemoterapi pada kanker.

Paragraf di atas dikutif dari sebuah buku pendamping Bahasa Indonesia kelas 4 semester genap yang ditulis oleh 11 orang penulis. Buku pendamping tersebut tidak menuliskan tahun penerbitan, tetapi menuliskan kata “KTSP standar Isi 2006” pada sampulnya. Besar huruf yang digunakan kira-kira font 10, dan space single. Tebal buku adalah 62 halaman.

Standar Kompetensi yang tertulis pada materi awal tema tersebut ada 4 yaitu: 1. Mendengarkan pengumuman dan pembacaan pantun. 2. Mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi dengan berbalas pantun dan bertelepon 3. Memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring dan membaca pantun. 4. Mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara tertulis dalam bentuk karangan, pengumuman dan pantun anak-anak.

Kompetensi Dasar yang tertulis pada materi awal tema tersebut ada 4: 1. Menirukan pembacaan pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat 2. Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan 3. Menemukan Kalimat Utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif. 4. Menulis pengumuman dengan bahasa yang baik dan benar serta memerhatikan penggunaan ejaan.

Karakter siswa yang diharapkan dalam proses belajar mengajar yang ditulis dalam bagian awal tema tersebut adalah: 1. Gemar membaca 2. Kreatif dan mandiri 3. Bersahabat / komunikatif 4. Rasa ingin tahu 5. Cinta tanah air 6. Bertanggungjawab

Dilihat dari gelar pengarangnya, maka ada 3 orang S.Si., 2 orang S.S, 1 orang S.E, 1 orang S.H, 1 orang Drs, 2 orang S.Pd., dan 1 orang A.Md. Mereka semuanya sudah S1 dan sesuai dengan tuntutan UU Nomor 14 tahun tahun 2005, kecuali ada 1 orang yang ahli madya. Dari jumlah penulis dan latar belakang pendidikan, semestinya mereka sudah menghasilkan karya yang cukup bagus. Tetapi apa yang terjadi, mari kita lihat satu persatu.

Pertama dari ukuran kata, yaitu besar kecilnya kata. Tulisan dalam buku tersebut hampir sama dengan huruf pada surat kabar. Ukuran sekecil ini tidak menarik minat siswa yang usianya sekitar 10 tahun. Usia semuda itu sebaiknya menulis dengan besar huruf lebih besar dari normal. Lebis besar dari font 12. Kedua, dilahat dari spasi, yaitu jarak baris demi baris hanya 1, sebaiknya menggunakan 1,5 atau 2 spasi. Ini dilakukan untuk menimbulkan rasa senang membaca. Dari kedua hal teknis ini, bertentangan dengan karakter yang diinginkan yaitu “gemar membaca” dan rasa “ingin tahu”. Rasa ingin tahu dimulai dari sesuatu yang indah, bagus, menarik dan menantang.

Permasalahan ketiga adalah pemakaian kata. Perhatikan kata proteksi, penelitian, herbal dan kemoterapi dan anti proteksi. Pertanyaanya adalah apakah kata-kata ini sudah waktunya dimunculkan untuk usia 10 tahun? Kata proteksi berasal dari Bahasa Inggris yaitu protection. Bahasa Indonesianya adalah perlindungan. Kalau menggunakan kata perlindungan atau melindungi, maka tulisan itu akan lebih bagus. Pada usia inilah kita mengenalkan semua kata-kata Indonesia. Kata serapan seperti proteksi, herbal dan kemoterapi kita perkenalkan pada pendidikan yang lebih tinggi seperti SMP.

Kata penelitian berasal dari kata teliti. Teliti artinya seseorang yang melakukan pekerjaan dengan hati-hati agar tidak melakukan kesalahan. Sementara kata penelitian yang dituntut dalam tulisan itu bukan kehati-hatian. Anak seusia itu belum mampu menangkap arti kata penelitian. Sebaiknya harus diganti dengan kata lain seperti mempelajari. Atau diganti dengan kalimat yang lebih bagus.

Permasalahan keempat yang paling fatal adalah Standar kompetensi. Bagaimana bisa dalam satu topik bahasan, satu tema ada 4 Standar kompetensi? Apakah ini benar sesuai dengan Standar Isi tahun 2006 sebagaimana tertulis dalam sampul buku tersebut? Sebagai bandingan, pada SMK Mata Pelajaran Bahasa Indonesia selama 3 tahun hanya ada 3 Standar Kompetensi yaitu berbicara pada tingkat semenjana, berbicara pada tingkat madya dan berbicara pada tingkat unggul.

Kita sebagai guru, terutama anda yang sedang mengajar dan menyusun buku SD, sebaiknya menggunakan empati. Kita harus mampu memposisikan diri sebagai mereka. Menulis tidak asal ada, atau hanya mengejar angka kredit dengan mencantumkan nama pada buku. Seorang guru jangan sampai menunggu-nunggu ada pelatihan dari pemerintah. Kalau itu yang kita tunggu, apakah bedanya kita dengan siswa? Jangan gara-gara kita salah menulis buku sehingga kurikulum diganti. Seorang guru harus dapat membelajarkan dirinya sendiri. Ayo bangkitlah guru Indonesia.
Read More..

Cognitive C6: (Evaluation)

Cognitive ke enam dari Bloom adalah evaluasi (evaluation). Evaluasi artinya melakukan penilaian terhadap ide, materi ataupun system. Inilah level paling tinggi dari cognitive setelah pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa dan sintesis. Level evaluasi menuntut untuk memilih yang terbaik dari yang baik. Atau level ini dituntut untuk mencari kelemahan dan menemukan keunggulan dari suatu metode, prosedure ataupun sistem.

Setiap hari ada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Kemarin tanggal 24 Februari 2013, berlangsung Pilkada Jawa Barat. Menurut beberapa Quick Count, pemenangnya adalah Pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar. Oleh karena itu kita ucapkan selamat, terutama kepada Jenderal Naga Bonar sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.

Biar bagaimanapun, dalam pelaksanaan Pilkada pasti menghabiskan banyak biaya, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, partai, peserta maupun masyarakat. Bersamaan dengan itu, banyak juga Kepala daerah yang bermasalah dengan hukum. Diduga ada kaitannya dengan biaya tinggi dalam pelaksanaan Pilkada. Oleh karena itu tidak sedikit para ahli yang melakukan evaluasi dengan mengatakan bahwa Pilkada Langsung kurang efektive terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. Sebaiknya kembali saja pada zaman Orde Baru, bahwa Gubernur dipilih oleh DPRD. Inilah kelompok yang melakukan evaluasi terhadap system pemilu, terutama Undang-Undang.

Kelompok yang lain juga melakukan evaluasi terhadap sistem sekarang. Pada hakekatnya hasil evaluasi sama, yaitu biaya tinggi dan ramainya Kepala daerah yang bermasalah dengan hukum, terutama yang namanya korupsi. Kelompok ini mengatakan, sebaiknya sistem tetap kita pertahankan, tetapi mari kita lihat hal apa yang perlu dilakukan sehingga lebih efisien. Apakah sistem sudah dilaksanakan dengan baik dan tegas? Kelompok ini mengusulkan, sebaiknya dilaksanakan Pilkada serentak di suatu Daerah. Misalnya Jawa Barat ad 27 Kabupaten Kota, maka dalam waktu bersamaan diadakan 28 Pilkada. Satu Pilkada Provinsi dan 27 Pilkada Kabupaten/Kotamadya. Biaya boros terutama diakibatkan oleh kampanye. Sebaiknya biaya kampanye diambil dari APBN dengan memberikan hak yang sama untuk setiap peserta untuk beriklan di Televisi. Inilah contoh evaluasi yang masih sedang berlangsung di negeri tercinta.

Mari kita tinggalkan Pilkada. Sekarang kita lihat contohnya dalam Matematika. Misalnya diberikan soal sistem persamaan Linier. Tentukanlah solusi (himpunan penyelesaian) dari 3x – 2y = 5; 7x + 2y = 5. Sistem tersebut dapat dilakukan dengan 4 metode (cara), yaitu eliminasi, substitusi, matriks dan grafik. Metode manakah yang terbaik? Tentu semuanya baik. Tetapi dengan melihat kasus di atas maka metode yang paling tepat adalah eliminasi. Variabel yang dieliminasi adalah y. Dengan menjumlahkan persamaan pertama dengan kedua, maka variabel y tereliminasi (lenyap) sehingga didapat 10x = 10 dan x =1. Substitusi x = 1 ke persamaan 1 atau 2, didapat nilai y = -1.

Jika soal di atas dibuat dalam bentuk Pilihan Ganda, maka kita tidak tahu metode yang digunakan siswa tersebut. Sehingga susah mengatakan, apakah dia menggunakan metode yang paling cepat/simpel. Tetapi bila soal dalam bentuk essey test, maka jelas terlihat metodenya. Bila kita dihadapkan untuk memilih 1 orang siswa dari 2 orang yang menjawab benar soal di atas, maka pilihannya adalah siswa yang menjawab dengan metode eliminasi
Read More..