Halaman

Translate

Rabu, 27 Maret 2013

Kendali atau Kontrol ?


Kontrol berasal dari kata "control" (Bahasa Inggris) yang berarti kendali. Kalau kita gunakan mesin pencari kata google, maka kata "kendali" ditemukan dalam 7,7 juta laman. Sementara kata "kontrol" ada sebanyak 87 juta laman. Perbandingannya adalah 9 berbanding 100. Setiap sembilan kali orang Indonesia menggunakan kata "kendali" dan secara bersamaan ada 100 ksli menggunakan kata "kontrol". Ini menandakan mayoritas masyarakat Indonesia lebih memilih kata asing dari kata yang berasal dari bumi Indonesia sendiri.

Bukan hanya dalam tulisan, pada media visual juga kita lebih sering mendengar kata control dibanding kendali. Baik oleh penyiar, oleh para ahli, pengamat maupun pejabat Negara/pemerintahan. Pada hal, banyak orang yang tidak sempurna mengucapkan kata “er”. Orang yang normal saja sering mengucapkan kontrol tanpa er atau er nya lemah ketika mereka berbicara sedang serius, atau sedang buru-buru atau sedang emosi. Artinya penggunaan kata kontrol lebih beresiko salah dibanding pengucapan kata kendali. Resiko yang lebih besar adalah, kita lebih mencintai bahasa asing dari bahasa Indonesia.
Apakah kita lebih suka resiko atau aman?
Read More..

Selasa, 19 Maret 2013

Aklamasi atau Musyawarat?

Kata aklamasi artinya pernyataan setuju secara lisan dari seluruh peserta rapat terhadap suatu usul tanpa melalui pemungutan suara. Bila kita gunakan mesin pencari kata Google, maka kita dapat kata Aklamasi sebanyak 583.000. Partai Golkar, Partai Nasdem memilih ketua Umumnya dengan aklamasi. Partai Demokrat tampaknya juga akan aklamasi.

Sementara kata musyawarah ada 16.700.000 kata oleh mesin pencarian kata Google. Musyawarah artinya pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan. Dengan kata lain aklamasi dan musyawarah memiliki pengertian yang hampir sama. Pertanyaanya adalah,mengapa memakai kata aklamasi? Kata aklamasi tidak ditemukan dalam dasar negara Pancasila. Bolehkah kita sebut, bila hati dan pikiran kita selalu berlandaskan pancasila, maka kata yang kita gunakan adalah kata yang terkandung didalamnya?

Lebih parah lagi, sesungguhnya pada Pancasila tidak ditemukan kata "musyawarah", akan tetapi musyawarat sekalipun artinya sama persis. Paling parah lagi, bab ii UUD 1945 hasil amandemen adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), tetapi satu pasalpun dan satu ayatpun tidak ditemukan kata musyawarah atau musyawarat.

Manusia pancasilais memakai kata "musyawarat" atau "musyawarah", bukan aklamasi! Iye kali....!
Read More..

Kamis, 14 Maret 2013

Minat

Pasal 12 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama; mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara; menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. Pasal ini hampir sama (99% sama) dengan pasal 24 UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Artinya pasal ini tetap dipertahankan hingga saat ini sudah 24 tahun. Pertanyaanya adalah prakteknya seperti apa?

Minat adalah kesediaan jiwa secara aktif untuk menerima sesuatu. Kalau bakat sudah pasti minat. Permasalahan adalah dia tidak berbakat dan tidak berminat. Kalau bakat dapat dikembangkan dan dilatih, tetapi minat butuh motivasi. Sebagaimana kita bahas dalam pengertian belajar. Penumbuhan minat, artinya telah terjadi belajar. Karena sudah ada perubahan sikap yaitu minat. Membuat siswa berminat merupakan tujuan belajar.

Ada berbagai macam cara dalam penumbuhan minat dalam pembelajaran. Pertama penyusunan materi ajar dengan sistematis. Dimulai dari hal-hal yang terkecil/sederhana/mudah menuju pada hal yang kompleks/sukar. Kedua dengan penerapan metode dan strategi yang tepat. Ketiga dengan penggunaan media yang baik. Keempat dengan penerapan aturan yang konsisten. Kelima dengan penciptaan iklim yang demokratis. Keenam dengan gaya bahasa yang baik.

Kurikulum 2013 yang akan dilaksanakan, menyajikan Mata Pelajaran Peminatan. Peminatan menggantikan jurusan. Kalau ini dilaksanakan, tampaknya yang tercipta bukan kemajuan, akan tetapi kemunduran. Kalau SMA jurusan dari dulu sampai sekarang tidak banyak berubah, hanya IPA,IPS, Bahasa dan Budaya. Tetapi kalau SMK setiap saat jurusan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Saat ini jurusan SMK sudah lebih dari 50 jurusan. Kalau jurusan diganti, makin susah bagi siswa maupun orangtua. Perubahan sekolah kejuruan menjadi SMK saja, siswa dan orangtua sudah banyak yang kewalahan dan memilih sekolah yang tidak sesuai dengan minat. Perlu beberapa tahun bagi siswa dan orangtua untuk memahami SMK dan jurusannya.
Read More..

Rabu, 13 Maret 2013

Bakat.

Pasal 12 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama; mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara; menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.

Pasal ini hampir sama (99% sama) dengan pasal 24 UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Artinya pasal ini tetap dipertahankan hingga saat ini sudah 24 tahun. Pertanyaanya adalah prakteknya seperti apa?

Bakat merupakan kondisi atau kualitas yang dimiliki seseorang, yang memungkinkan seseorang tersebut akan berkembang pada masa mendatang. Bakat bisa diartikan sebagai kemampuan bawaan yang berupa potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Pada umumnya bakat sudah dapat terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Bakat itu merupakan bidang yang disenangi dan dia unggul dalam bidang tersebut. Tetapi ada juga bakat yang masih tersembunyi.

Dalam prakteknya di sekolah, bakat diwujudkan dalam dua bentuk. Pertama dalam kegiatan intrakurikuler. Misalnya dia senang berhitung. Maka dia ada bakat matematika dan ilmu eksakta. Dia senang menulis, maka dia ada bakat jadi penulis novel, puisi dan sejenisnya. Dia senang mengutak-atik sesuatu, maka dia ada bakat tehnik. Dan lain-lain. Mau apa juga bakat anak, dia harus mempelajari semua Mata Pelajaran yang sudah ditetapkan dalam Kurikulum. Dapat disimpulkan, jika dia suka semua pelajaran dan unggul dalam semua Mata Pelajaran, maka anak itu memiliki banyak bakat (multiple altitude).

Wujud kedua dari bakat di sekolah adalah kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Paskibra, Pecinta Alam, Vocal Group, Drama, Tari, Silat, Karate, Taekwondo, Basket Bola, Sepak Bola, Futsal, Rohani Islam, Rohani Kristen, English Debate, dan lain-lain. Setiap jenjang pendidikan memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang mungkin berbeda.

Sangat susah untuk menampung semua bakat yang dimiliki oleh semua siswa. Lagi pula kebanyakan pelatih/guru ekstrakurikuler adalah orang luar. Keberhasilan siswa dalam pengembangan bakat sangat ditentukan oleh siswa sendiri dan keluarga.
Read More..

Selasa, 12 Maret 2013

Hitung tanpa Kertas dan Tulis

Suatu hari, ketika saya menanyakan kepada anak saya kelas IV SD: berapakah 3 dibagi 5? Kemudian dia buru-buru mengambil kertas dan alat tulis. Saya melarangnya, karena bukan dalam kondisi belajar, akan tetapi dalam kondisi santai di ruang tamu. Dia protes, dan berkata: tidak bisa!

Sekarang: berapa 6 dibagi 10? Tidak bisa! Ambillah kertasmu. Kemudian dia jawab: 0,6. Berapa 7 dibagi 10? Jawab 0,7. Sekarang hilangkan alat tulis, berapakah 4 dibagi 10? 0,4 pak, dengan jawaban yang cepat. Berapakah 3 dibagi 5?Ah..tidak bisa pak. Berapakah 5 dikali 2? 10 pak. Berapakah 3 dikali 2? 6 pak!. Berapakah 3 dibagi 5? Ya tadi udah nggak bisa pak! Kok diulang-ulang melulu!

Kalau 3 dibagi 5, maka 3 disebut dengan? Pembilang, dan 5 disebut penyebut, jawabnya dengan cepat. Kalau pembilang dikali dua, maka penyebut juga dikali 2. Jadi kalau penyebut angka lima dikali dengan dua, maka penyebutnya jadi 10. Oh begitu pak. Berapakah 3 dibagi 5? 0,6 pak! Bagus, berapakah 4 dibagi 5? "Nol koma delapa...an", kata adeknya yang masih kelas dua SD, yang ikut menyimak. Betul,kata kelas IV. Berapakah 7 dibagi 5? "Nol koma empat belas", kata mereka berdua. Kalau 7 dibagi 5 bisa berapa dan sisa berapa? Bisa satu dan sisa 2. Kalau bisa satu, berarti hasil baginya satu koma. Oh begitu, jadi 7 dibagi 5 sama dengan 1,4. Good! Berapakah 11 dibagi dengan 5? Dua koma dua pak! Jawab mereka berdua.

Hanya dalam tempo kira-kira 10 menit, mereka berdua tamat pembagian oleh lima untuk bilangan dibawah 50, tanpa alat tulis. Konsep yang digunakan adalah konsep pecahan senilai. Jika pembilang dikali dengan bilangan k, maka penyebut juga harus dikali dengan k, maka pecahan akan tetap bernilai sama. Bilangan k disebut dengan faktor persekutuan. Dengan mengajarkan konsep seperti ini, siswa dituntut menggunakan konsep sebelumnya yang sudah dipelajari yaitu faktor persekutuan. Pembagian dengan angka 5 dan 10 merupakan kejadian yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perlu perhitungan luar kepala alias tanpa kertas.
Read More..

Minggu, 10 Maret 2013

Sudah Moving Class!

Memang lima tahun yang lalu moving class sangat popular. Banyak sekolah yang menerapkannya. Termasuk SMKN 17 Jakarta ingin menerapkannya. Ketika itu saya menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kendali Mutu menolak dengan berbagai alasan. Kalau moving class, maka ruangan kita sulap menjadi kantor, dimana seorang guru atau beberapa guru sejenis dalam satu kantor. Siswa satu kelas datang kepada guru tersebut. Jadi suasananya tidak seperti kelas, akan tetapi seperti diskusi.

Persoalan yang ditimbulkan lebih banyak dari keuntungan yang diperolehnya. Logika mengajarkan kita untuk mengambil kesimpulan menolak. Alasannya pertama. Pengendalian kelas. Lebih mudah mengendalikan perpindahan seorang guru dibandingkan dengan perpindahan 40 siswa. Kalau dalam satu sekolah ada 15 kelas, maka dalam waktu bersamaan ada 600 siswa hilir mudik diluar kelas. Pergerakan orang sebanyak ini tentu saja memakan waktu yang lama dan juga memberikan kesempatan kepada anak yang nakal untuk mampir kemana-mana, misalnya mampir ke kamar mandi, musolla atau kantin lebih dahulu.

Alasan kedua. Tidak semua materi pelajaran cocok dengan metode diskusi. Alasan ketiga. Kalau ada 2 atau lebih guru dalam satu kantor sedang mengajar, maka ada 80 atau 120 siswa dalam kantor tersebut. Apakah itu masih suasana kantor? Moving class itu cocok dengan jumlah kelas yang kecil, misalnya 20 siswa atau kurang. SMKN 17 melaksanakan moving class hanya unutk efisiensi. Kelas yang dipindah adalah mereka yang sedang menggunakan lapangan atau laboratorium.
Read More..

Sabtu, 09 Maret 2013

Lidah Sexy

Kata sexy biasanya dipakai untuk wanita yang tubuhnya langsing dan menarik. Sexy juga digunakan untuk barang yang tipis. Misalnya Notebook sexy. Artinya notebooknya semakin tipis dan menarik. Bibir sexy, bibirnya tipis dan dan cantik.

Satu minggu yang lalu saya berkata kepada seorang siswi:" Nak bilang dulu mama, agar menelopon bapak". Ada apa pak, saya tidak mau. Ya sudah, nomor HP mu berapa, biar bapak yang telepon. Saya tidak punya HP pak, katnya. Ya sudah, nanti bapak cari saja dari satabase.

Besoknya, sang anak kelihatan bersedih. Kenapa nak? dia menjawab:"HP ku hilang pak". La..katanya kemarin tak punya HP. Nah jadi orang harus jujur. Itulah masalah siswi ini. Kalau jawab, seenaknya dengan kalimat yang sangat pendek. Sehingga menarik kita untuk selalu mengajukan pertanyaan berikut. Jawababannya singkat-singkat.
Read More..